Selasa, 18 Desember 2012

WALI PITU DI PULAU BALI penyebar Agama Islam ala Ahlisunnah Wal Jamaah

          Ditulis oleh seorang habib dari Kota Sidoarjo Jawa Timur bernama CHABIB TOYYIB ZAEN ARIFIN ASSEGAF, pada tahun 1998 telah diterbitkannya sebuah buku SEJARAH WUJUDNYA MAKAM WALI PITU DI BALI. Buku tersebut adalah sebuah himpunan penelitian ilmiah oleh Team Peneliti dari Jamaah Manaqib Al Jamali Jawa - Madura - Bali Indonesia.
         
           Dalam Buku tersebut antara lain Penulis menuturkan bahwa wujudnya Makam Wali Pitu di Pulau Bali tersebut adalah awal dari penelitian yang diadakan oleh satu Team dari Jamaah Manaqib Al Jamali  yang perlu ditindak lanjuti penyelidikan dan penelitiannya lebih mendalam untuk mendapatkan bukti-bukti otentik tentang keberadaan makam itu sendiri, terutama menggali dan meneliti sejarah hidup dari masing-masing Wali yag dimakamkan termasuk mencari data nasab, keturunan dan asal usulnya, benda-benda peninggalannya, perjuangannya, pengorbanannya, terutama mencari dan meneliti adanya suatu tonggak prasasti untuk dijadikan bukti otentik terjadinya peristiwa sejarah yang benar dan untuk keperluan tersebut sangat dibutuhkan waktu yang panjang, ketekunan dan kejelian serta terus berusaha tanpa mengalami putus asa. 

          SUSUNAN MAKAM WALI PITU DI BALI  ( Sab'atul Auliya')

1. Pangeran Mas Sepuh / Syeh Ahmad Hamdun Choirussoleh / Raden       Amangkuringrat.  Makamnya di Desa Munggu. Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Di Kenal dengan Makam Keramat Pantai Seseh.

2. Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi,  makamnya diatas bukit Bedugul Kabupaten Tabanan. Dikenal dengan  Makam Keramat Bedugul  

3. Chabib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid, makamnya di kampung Islam Kusumba Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan  Makam Keramat Kusumba.

4.  Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi, makamnya di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Babandem, Kabupaten Karangasem. Dikenal dengan  Makam Keramat Kembar

5.  Chabib Ali Bin Zainul Abidin Al Idrus, makamnya di Desa Bungaya Kangin Kecamatan Babandem, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan Makam Keramat Kembar. 

6.  The Kwan Lie  bergelar :  Syeh Abdul Qodir Muhammad, makamnya di Desa Temukus, Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Dikenal dengan  Makam Keramat Karang Rupit. 

7.  Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih, makamnya di jalan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Dikenal dengan Makam Keramat Loloan. 


SEKILAS SEJARAH PENEMUAN MAKAM WALI PITU BALI.
          Penemuan Wali Pitu di Bali, diawali dengan petunjuk-petunjuk yang dialami oleh seseorang yang bernama Chabib Toyyib Zaen Arifin Assegaf. Beliau adalah Pengasuh Jam'iyah Manaqib Al Jamali ( Jawa - Madura - Bali ), Yakni tepatnya pada bulan Muharrom Tahun 1412 H / 1992 M. 
          Petunjuk-petunjuk tersebut diperoleh secara sirri dan berangsur-angsur laksana Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
         Petunjuk-petunjuk tersebut diperoleh melalui hembusan suara sayup dalam bahasa Jawa, diantaranya berbunyi :
a. "Wis keporo nyoto ing tlatah Bali iku kawengku dining pitu piro-piro Wali  coba wujudna"
      Artinya :
       Di Daerah Bali telah nyata dihuni oleh tujuh para Wali  coba wujudkan. 

b.


 











 

Minggu, 17 Juni 2012

Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Agung Muhammad SAW di Kampung Mataraman Jalan Seruni Kota Blitar

     Di malam yang penuh barokah, Ahad malam Senen, tanggal 27 Rojab 1433 H yang bersamaan dengan tanggal 17 Juni 2012 M, warga RW V dan VI Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengadakan perayaan dalam rangka Peringatan Isro' wal Mi'roj Nabi Agung Muhammad SAW, bertempat di Kampung Mataraman Jalan Seruni Kota Blitar. Memang peringatan Hari Hari Besar Islam seperti yang dilaksanakan pada malam itu, tiap tahun tidak pernah absen. Terkadang dilaksanakan dengan bentuk lesehan, namun pada malam itu pelaksanaan peringatan sangat istimewa, dilaksanakan diatas panggung dan dilengkapi dengan hiburan musik sholawat oleh ibu-ibu jamaah yasin tahlil RW V dan VI yang dipandu dengan Electone Diana pimpinan Bapak Tony Sumartono SH.
     Ketua Panitia Bapak Drs. Ismayadi dan dibantu oleh semua warga hingga pelaksanaan peringatan malam itu sukses dan menggembirakan biarpun disana sini mungkin ada kekurangan yang tidak berarti, tapi cukup puas.
     Susunan acara nya sebagai berikut : Pra acara Musik Sholawat, Inti Acara sbb.: Pembukaan, pembacaan ayat suci Al Qur'an oleh Ustad Muhammad Shohib, sambutan Ketua Panitia (Bp Drs Ismayadi),  sambutan Ketua RW V/VI oleh Bp Arif Kucoro Jati, sambutan Camat Kepanjenkidul diwakili oleh Sekcam, diselingi Musik Sholawat, dan terakhir Tausiah oleh Ustad KH. Muhammad Arif Zamroni SH, MHi,MM dari Kademangan Blitar. Dan Acara ini dipandu oleh Sdr. Agus Irianto dari RW VI. 
     Dalam sambutan Ketua Panitia yang disampaikan Bapak Drs Ismayadi, mengatakan bahwa dalam Pelaksanaan Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW malam ini kami segenap Panitia sudah berusaha keras sesuai dengan program yang telah dicanangkan, hingga pada malam ini pelaksanaannya yang dapat kita nikmati bersama. Ini semua bertkat bantuan dan partisipasi semua warga, mudah-mudahan acara pada malam ini dapat berlangsung sukses dan memuaskan. Namun bila disana-sini masih ada kekurangan, kami selaku manusia biasa mohon maaf  dan semoga Alloh SWT mengampuninya.
     Kemudian sambutan Ketua RW V / VI, yang disampaikan oleh Bapak Arif Kuncoro Jati (ketua RW V), mengatakan bahwa beliau mengucapkan banyak-banyak terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan semua warga RW V/VI atas kekompakannya dalam melaksanakan setiap kegiatan khususnya kegiatan Peringatan Hari Hari Besar Islam selalu dibersamakan. Memang ini adalah kegiatan yang sudah dirintis oleh para pendahulunya dan perlu dilestarikan sebagai bentuk ukhuwah Islamiah / kebersamaan, persatuan dan kesatuan. 
     Sambutan dari camat Kepanjenkidul yang diwakili oleh Sekcam, menyampaikan rasa bangga atas terselenggarakannya peringatan Isro' Mi'roj pada malam itu sebegai bentuk kepedulian warga RW V/VI  dalam mengenang betapa perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mendekatkan diri ummatnya kepada Alloh SWT dengan Sholat yang diperintahkan langsung oleh Alloh SWT. Oleh karena itu domohon kepada semua Ummat Islam untuk tetap menjaga dan menegakkan Sholat ini sebagai amalan atas perintah Alloh SWT dengan penuh ikhlas dan tawadhu'.
     Ustad KH Muhammad Arif Zanroni SH,MHi,MM, memberikan tausiah yang sangat luas dan ternyata mudah diterima oleh para samiin. Dengan menggunakan methode dialog, ternyata para samiin mau diajak berlama-lama dan betah mengikuti tausiahnya. 

 Pada Intinya Tausiah beliau sbb.:

1. Al kisah Kampung Mataraman
     Penyebaran Islam di Tanah Jawa, ternyata tidak lepas dari Raja Jawa Sultan Agung yang berkedudukan di Jogjakarta. Waktu itu dikenal dengan para pandeganya seperti Pangeran Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro yang memiliki murid kinasih yang sangat banyak di tanah Jawa hingga disebut oleh para peneliti menjadi julukan Islam Jawa. Dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol kalah perang dengan penjajah Belanda hingga santri-santrinya bertebaran  keseluruh Tanah Jawa khusunya di Jawa Timur  kawasan selatan, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Blitar dan Malang.       
      Mereka inilah santri dan juga lasykar Pangeran Diponegono menyebarkan Islam  di kampung-kampung sambil berdagang. Kemudian lama-lama mereka adaptasi dengan warga setempat dan bertempat tinggal di daerah itu secara berkelompok, hingga disebutlah tempat tinggal mereka itu Kampung Mataraman. Dan ini hampir ada di setiap kabupaten mesti ada orang dari mataram. Biasanya penyebar agama Islam versi laskar Pangeran Diponegoro, halaman rumah tinggalnya di tandai dengan tanaman buah Sawo. Konon katanya untuk memudahkan teman-teman seperjuangannya untuk mencarinya. Termasuk yang ada di lingkungan Mastrip Kepanjenkidul Kota Blitar. Mereka - mereka inilah penyebar Islam yang kiranya  perlu disyukuri dan diteruskan perjuangannya, tentu saja melalui keturunannya, anak, cucu, buyut, canggah dan seterusnya mempunyai kuwajiban untuk memelihara dan melestarikannya hingga akhir zaman.
     Menurut pengamatan penulis di kawasan kelurahan Kepanjenkidul ini, tampaknya sudah sejak dulu banyak orang-orang penyebar Islam dari Mataram - Jogajakarta. Salah satu bukti otentiknya adalah di utara rel Kereta Api  sekarang bersebelahan dengan kampung Srigading yang dikenal dengan Gang Pesarehan ada makam yang kata masyarakat setempat adalah makam mBah Haji Abdul Hadi dari Mataram.  
     Oleh karena itu sudah selayaknyalah jikalau generasi penerus yang khususnya berdomisili di kampung Mataraman ini tetap melestarikan perjuangan Islam sesuai dengan yang dilakukan oleh para nenek moyangnya.

2.  Menjaga kemandirian Islam di tingkat keluarga 
     Sebenarnya manusia itu terdiri dari dua(2) unsur, yaitu Badan Wadag ( Jasmani ) dan Ruhani. Pada saatnya kedua-duanya akan kembali kepada asalnya. Badan Jasmani jikalau manusia sudah meninggal dunia akan kembali ke tanah, sebab memang menurut asal usulnya badan jasmani Anak  Adam diciptakan oleh Allah SWT dari tanah. Sedangkan Ruh akan kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT dengan membawa sejumlah pertanggungjawaban.
     Uraian diatas yang perlu digaris bawahi adalah kata-kata "pertangungjawaban". Tanggung jawab sebagai manusia  yang mengabdi kepada Allah SWT selaku penciptanya, ini hanya bisa dilalui dengan sebuah keluarga. Dari dalam keluarga inilah manusia akan berusaha untuk menjadikan keturunannya berahlak baik, yang biasanya dijadikan keturunannya menjadi anak sholih - sholihah.   Ini melalui proses yang panjang dan tidak mudah.  Cobalah kita perhatikan mengenai sejarahnya, dimulai dari dua insan manusia yang berlainan jenis kelamin. Untuk memulainya biasanya diawali dengan pacaran yang semestinya tidak perlu terjadi. Sebab pacaran artinya kan untuk mengenal lebih dekat antara laki-laki dan perempuan secara individual. Dan ini pasti bukan muhrimya. Dalam keyakinan Islam, berpandangan saja dengan lain jenis lebih dari satu kali antara laki-laki dan perempuan bukan muhrimnya hukumnya haram, apalagi bersama-sama, berboncengan kesana kemari itu perbuatan yang sangat dilarang dan bentuk pelanggaran.
     Selanjutnya untuk menjadikan dia istrinya atau suaminya harusnya melalui proses ada Ijab-qobul dari calon mempelai laki-laki dengan pihak wali perempuan  dan diperkuat dengan Mas Kawin atau Mahar dan pula disaksikan paling sedikit dua orang. Jadi tidak asal kamu jadi istriku atau kamu jadi suamiku.
     Kemudian untuk membuat anak pada saat akan berhubungan badan antara suami - istri harusnya keduanya bersuci dan berdoa kepada Allah SWT agar dijauhkan dari godaan syaithon dan mohon kepada Allah SWT diberkahi anak Sholih-sholihah. Jikalaulah sang istri lagi hamil maka keduanya harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya suami-istri ibadahnya ditingkatkan, prilakunya ahlakul karimah, dan selal;u menjaga kesehatan calon bayi dan ibunya.
     Kalau saat  lahir, anak diperdegarkan adzan dan iqomah di telinga kanan  oleh Bapaknya, ari-arinya di timbun ditanah sebab asal manusia memang darti tanah.Proses selanjutnya membesarkan dan mendidik, artinya memberikan adabiyah/kebiasaan anak untuk berahlakul karimah, mendidik dan menjadikan anak untuk mengerti.
     Itulah maka sebagai orang tua seharusnya memiliki tanggungjawab yang besar terhadap anak-anaknya untuk memasukkah nilai-nilai Islam kepadanya dengan cara membiasakan anak mengerti dan mengerjakan sholat, mengerti dan bisa membaca Kitab Sucinya yaitu Al Qur'an. Mimbiasakan keluarga sholat berjamaah di rumah, di musholla atau di masjid agar anak nantinya tidak malu ke masjid dan mengerti tata cara masuk masjid, sebab sholat berjamaah dimasjid antara lain bermanfaat  bisa bergaul (silaturohim) dengan ummat Islam lainnya dan lain sebagainya. Insyaallah jikalau itu semua di penuhi maka Islam di tingkat keluarga akan dapat dijadikan tolok ukur pengembangannya dimasyarakat. Disitulah maka akan tampak keseimbangan. klop. (jawa = sumbut), sesuai antara cita-cita dan jerih payah.


3. Kemana meningkatkan pengetahuan diniyah
     Untuk meningkatkan pengetahuan diniyah keluarga tidak perlu jauh-jauh, jikalau dirumah sendiri tidak ada yang berpengetahuan cukup, silahkanlah cari TPQ terdekat, disitulah kita akan mendapatkan bimbingan, informasi mengenai agama Islam. Atau lebih praktis lagi keluarga memanggil guru ngaji secara privat dirumah, maka akan lebih terfokus untuk segenap keluarga, yaitu bapak, ibu dan anak-anak. Pengetahuan Islam bisa lebih jauh lagi ditempuh di Pondok-pondok Pesantren, Madrosah - madrosah dan perguruan tinggi Islam yang sudah tersebar diseantero dunia. Tinggal kita ada minat apa tidak.
     Oleh karena itu marilah kita sama-sama berusaha untuk meningkatkan Pengetahuan Islam ini agar tidak ketinggalan. Semoga Allah SWT selalu memberikan ma'unah dan hidayah kepada kita semua. Amin yaa robbal 'alamiin.

                                 ( Notulis dan Kolektor  : mBah Sakrip )
     

     










     

Kamis, 24 Mei 2012

Kelompok Belajar Membaca Al - Qur'an

DI KELURAHAN KEPANJENKIDUL Kota Blitar cukup  banyak kelompok-kelompok kaum muslimin untuk belajar membaca Kitab Sucinya yaitu Al Qur'an. Kelompk itu ada yang menamakan dirinya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an, Kelompok Pengajian, dan bahkan ada yang berbentuk Kelompok Belajar atau Ngaji.
Di Masjid Al Idris jalan Mastrip No. 1 - 3 yang dirintis oleh mBah Sakrip, ini adalah semacan Kelompok Belajar Membaca Kitab suci Al Qur'an yang dibina oleh seorang pembimbing.

Minggu, 04 Maret 2012

BAROKAH WIJAYA, waroeng lesehan, di Desa Pojok Garum, Blitar, Jawa Timur

Reuni Keluarga KH Basuni, Blitar, ternyata berlangsung tidak hanya di rumah-rumah keluarga masing-masing dzurriah, tetapi juga bisa dan boleh dilaksanakan di rumah - rumah makan atau diwaroeng-waroeng. Seperti hari ini Minggu tanggal 4 Maret 2012, reuni kali ini dilaksanakan di WAROENG LESEHAN BAROKAH WIJAYA milik keluarga Bapak Drs  Muhammad Dirgantoro, rumah Jalan Seruni Kota Blitar. Malah sebelum itu,yaitu 10 tahun yang lalu reuni keluarga KH Basuni bertempat di taman wisata CANDI PENATARAN  dan di lokasi  Makam Syeh Subakir yang bersebelahan dengan Candi Penataran , Blitar, Jawa Timur.
    Susunan Acara Reuni Kuluarga masih tetap tidak berubah, yaitu baca Kalimah Thoyibah Tahlil kepada para leluhur dzurriyah, kemudian dilajutkan dengan nasehat para pinisepuh.
MC dibawakan oleh Bapak Haji Zaenal Fanani - Desa Karangsono-Kanigoro-Blitar, Tahlil di pimpin oleh mBah Sakrip, Jalan Seruni-Kota Blitar dan Nasehat oleh Bapak Haji Muhajir Jl. sruni kota Blitar. Isi mengenai nasehat ditekankan mengenahi "cara berwudlu dan tata cara sholat yang benar". engenai berwudlu dan tata cara sholat juga diberikan contoh-contoh agar selanjutnya bisa ditiru dan dilaksanakan.
     Jika dalam reuni tersebut kali ini diawali dengan makan siang, maka akhirnya ditutup dengan bacaan sholawat dan salam-salaman.
     Salam hangat dan sampai jumpa dalam reuni mendatang di rumah Pak Sueb Yuyun, Pakunden.

Penulis naskah dan kolektor : mBah Sakrip

Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban BERDUKA

       Tepatnya Hari Rabu 29 Pebruari 2012 pukul 18.30, telang dipanggil Allah SWT / pulang ke rohmatulloh, dirumah duka, beliau Almaghfurlloh  Romo Kyai Haji Abdulloh Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur, dalam usia 82 tahun. Seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan dengan meninggalnya beliau. Beliau dinilai telah banyak berjasa untuk agama dan negrinya "Indonesia".
       Di saat wafatnya, hujan lebat dan lautan manusia mengirinya kepergian KH Abdullah Faqih menghadap sang khaliq. Para habaib, kiai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat, santri, alumni, dan warga dari berbagai tempat tumpleg bleg di Pondok Pesantren, Widang, Langitan untuk memberikan peghormatan terakhir.
Sejak Romo Kyai Faqih menghembuskan nafas yang terkhir, para penta'jiyah terus berdatangan dari berbagai tempat. Puluhan kali sholat zenazah dilaksanakan, digelar di masjid depan rumah duka, yaitu dilokasi ponpes Langitan yang memiliki 5500 santri.
       Gema tahlil tiada henti berkumandang mengiringi ulama kharismatik yang namanya melambung seiring dengan istilah Poros Langtan menjelang sidang umu MPR 1998, terutama berkaitan dengan pencalonan Gus Dur sebagi presiden.
       Berkaitan dengan wafatnya mBah Yai Faqih, pihak keluarga memutuskan memakamkan almarhum Kamis Siang tanggal 1 Maret 2012 di pemakaman umum Widang. sekitar jam 11.30 WIB. Tepat pukul itu juga Sholat zenazah yang terus digelar bergantian itu dihentikan untuk disambung dengan upacara pemberangkatan zenazah.
        Namun diluar dugaan,langit cerah itu mendadak gelap. Di tengah hiruk pikukpuluhan ribu pentakjiyah itulah hujan tumpah dari langit. Tak pelak banyak diantara mereka yang basah kuyup krena tak kebagian tempat berteduh lantaran banyaknya orang yang berjubel disana.
Kendati deikian upacara tetap berlangsung hidmat, seiring sholat dhuhur dan dilanjutkan dengan shlat jenazah terakhir dan tahlil bersama.
       Yang juga luar biasa, ketikazenazh dalam keranda bertutup kain hijau bertuliskan kalimat Syahadat itu diberangkatkan dengancara dipikul, tiba-tiba hujan eda dan langitpun kembali cerah. Jalan yang panjangnya sekitar 600 meter yang dilalui zenazah daripondok Pesanten ke pemakaman penuh sesak.  Isak tagis keluarga, kerabat, para santri dan para pentakziyah lainnya menyatu dengan suara tahil, hingga sang kiai tiba di peristirahatan terakhir di lokasi pemakaman umum Desa Wdang Tuban Jawa Timur.
       Sang teladan dan juru damai yang berhasil menyatukan hati Gus Dur dengan sang paman KH Yusuf Hasim dan juga KH Hasim Muzadi itu benar-benar telh berpulang. "Masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur kehilangan sosok dn figur panutan. Selain menjadi panutan ulama lain, Kiai Faqih adalah tokoh nasional yang banyak berjasa pda bangsa Indonesia", ugkap gubernur Soekarwo dlam sambutannya.
Masih menurut Pak De Karwo, Kiai yang fatwanya kerap dijadikan Gus Dur sebagai referensi gerakan reformasi nasional itu selalu menjadi panutan dalam menjaga Ahluss Sunnah Wal Jamaah di Indonesia dan bahkan menjadi rujukan internasional. "Dan beliau banyak membawa Jawa Timur berperan menjadi wilayah yang aman dan tentram".
       Selain Gubernur Jatim, Kapolda Irjen Pl Hadiatmoko, Bupati Tuban H. Fathul Huda, Bupati Lamongan Fadeli, mantan Bupati Bojonegoro Santoso dan sejumlah pejabat jatim lainya juga hadir dirumah duka. Presidan Indonesia Susilo Bambang Yudoyono terlihat mengirimkan karangan bunga sebagai ucapan bela sungkawa. Demikian pula juga banyak dari kalangan Partai politik, Golkar, DPP PKB dan DPP PKNU.
Selain itu sistuai jalan didepan pondok Langitan terlihat macet, sebabsejak Rabu kendaraan terus berdatatangan.

mBah Kiai Faqih menjadi besar karena zuhud dan wira'i.
       Dimata sejumlah Kiai maupun para santri  mBah Kiai Faqih adalah figur yang hidup bersahaja dan ikhlas.
Ulama besar ini sangat besar dan zuhud, wira'i, sabar dan suka memotivasi orang lain ntuk maju. Beliau adalah teladan bangsa dalam kesalehan.
       Rumah kayu bercat kuning janur di dalam kompleks Pondok Pesantren Langitan adalah saksi, betapa brsahaja Kiai Faqih. Bangunan tua ukuran 7 x 8 meter itu haya berisi meja kursi kuno dan dua almari buku.
Terlalu sederha jika dibanding dengan bangunan berlantai dua yag dihuni anak-anaknya.    Kesederhanaan Kiai kelahiran dusun Mandungan Widang Tuban 2 Mei 1932 mungkin taklepas dari teladan sng yah KH Rofii Zahid. Selain itu juga dari gurunya semasa muda yaitu mBah Abdurrohim, Rembang, Lasem, Jawa Tengah. Kesederhanan masih lekat meski beliau telah berguru kepada   Sayid Alwi bin Abbas al Maliki yah dari Sayid Muhammad in Alwi Al Maliki dari Arab. Bahkan semakin kenthal setelah beliau dipercaya memimpin Pondok Pesantren Langitan menggantikan KH Abdul Hadi Zahid sejak 1971.
       Ditangan Kiai Faqih, Ponpes Langitan yang didirikan oleh KH Muhammad Nur (asal Tayuban Rembang Jateng) pada tahun 1852, berkembang pesat.Di dampingi sang paman KH Ahmad Marzuki Zahid, Kiai Faqih membuat Ponpesnya mejadi lebih terbuka terhadap kemajuan, meski tetap teguh pada prinsip salafiyah.

Ternyata mBah Kyai Abdullah Faqih mondok hanya 4 tahun
       Masa kecil Syaikhina KH abdullah Faqih lahir dari pasangan Kyai Rofi'i dan Nyai Khodijah bersaudarakan tiga yaitu Abdullah Faqih, Khizin dan Hamim. Namun semenjak kecil kepengasuhan berada dibawah pamannya KH Abdulhadi Zahid Pengasuh Ponpes Langitan Generasi ke empat. Ini terjadi lantaran ayahanda beliau kyai Rofii wafat saat Syaikhina berusia tujuh tahun. Syaikhina Abdullah Faqih lahir di Desa Widang Tuban pada tanggal 2 Mei 1932.
       Abdullah Faqih muda sangat senang bergelut dengan kitab-kitab keagamaan. Setelah belajar kepada ayahandanya beliau mulai keluar rumah untuk menuntut ilmu. Pindah dari pesantren satu ke pesantren lainnya guna mencari ilmu dan kalam hikmah. Beliau sangat luar biasa meski hanya 4 tahun dalam pengembarannya mencari ilmu, beliau sangat konsentrasi dan istiqomah. Selama mondok syaikhina selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
       Selama empat tahun itu, Abdullah Faqih muda telah mengambil ilmu dari para guru yang utama, antara lain : di Lasem Jawa Tengah belajar pada KH Baidhowi, KH Ma'shum, KH Fathurrohman, KH Maftuhi, KH Manshur dan KH Masduki. Di Bangilan beliau belajar pada para kyai dan yang utama belajar pa KH Fadhal. Kemudian pindah-pindah bertabarukan ke pesantren-pesantren lainnya diantaranya Pesantren Watu Congol asuhan KH Nahrowi Dalhar (mBah Kyai Dalhar).
       Sehabis masa pengembaraannya beliau kemudian berumah tangga dengan putri dari KH Ma'shum yaitu Nyai Hunainah, dan selanjutnya berdomisili di Ponpes Langitan melanjutkan perjuangan pendahulunya KH abdul Hadi.

Terbuka bagi siapa saja
       Setiap hari kediaman Syaikhina Kh Abdullah Faqih Langitan tidak sepi dari kunjungan tamu.  Beliau sangat ramah dan berbdi halus.  Telah diakui banyak orang, bahwa syaikhina dapat memberikan jalan keluar terhadap masalah-masalah yang ditimpa para tamunya. Pada hal tamu yang berkunjung ke kediaman beliau dari berbagai la[isan masyarakat, ada pejabat tinggi, pejabat rendahan, rakyat biasa, para santri dan lain-lain. Kayaknya beliau memiliki mata hati (basyiroh) yang jarang dimiliki banyak orang. Beliau menyampaikannya dengan menggunakan tutur bahasa yang santun dan mengedepankan bahasa budi.
       Semoga amal baik beliau ditrima Allah SWT dan segala dosanya dileburNYA.
(sebagian unduhan dari harian surya)

                            ====:kolektor dan penulis naskah mBah Sakrip:=====

Sabtu, 31 Desember 2011

berkunjung ke DESA BALOKANG - Banjar - Jawa Barat

          Hari itu sebenarnya hari yang sangat bahagia 13 Desember 2011. Salah satu keluarga ada yang lagi menikah. Jadi ikutan aku sebagai orang tua ke Kota Banjar - Jawa Barat, yang baru dua kali itu aku dan keluargaku mengunjunginya.
Sepur Kahuripan yang mengantarku yang kedua kali ternyata memiliki keramahan yang cukup memikat hati para penumpangnya termasuk aku dan keluargaku. Dulu sewaktu aku masih pertamakali menaikinya, wuiiih.... penumpangnya puuuoool banget sampai-sampai sulit duduk dilatai, disandung dan ditendang para bakul. Sedangkan yang kedua kali ini....., hemmmm..... sangat ramah, dan penumpangnya semua kebagian tempat duduk. Hingga akupun bisa tiduran habis tempatku mulai dari kediri hingga Sta Lempuyangan Jogja " kosong " .
         Salah satu wajah desa Balokang yang sangat indah mempesona, aku menyusurinya dengan sepeda motor jemputan dari pihak keluarga Bapak Dimyati Almarhum.







           Jalan di Pasar Banjar terobosan menuju Terminal Bis sudah ada yang rusak, sepertinya biaya pemeliharaannya masih dianggarkan. Belum turun.

Minggu, 14 Agustus 2011

ZIAROH WALI LIMO, waliulloh di jawa timur

SEBAGIAN orang mengatakan bahwa sebelum ziaroh ke makam para sunan/wali sebaiknya kunjungidululah / ziarohlah terlebih dulu ke makam orang tua anda. Atau jika  orang tua anda masih hidup sebaiknya memberitahu ( jawa = pamitan) terlebih dulu kepada orang tua anda. Apakah maqolah itu benar atau tidak, atau barangkali ada khasiat atau tidak,  itu terserah kepada para pembaca tulisan saya ini. Yang penting tulisan saya ini hanya cerita perjalanan kami ( Pak H. Sutardjo MM, Pak H.Ahmad Taufiq, Pak Suprapto, Pak Nurwiyono (Nurlala), Pak Sunardi, Pak  Muhari dan saya sendiri Pak Sakrip ) ke para makam Wali Limo di Jawa Timur. Akan tetapi ada baiknya bila lebih dahulu kita simak Buku Kisah Keteladanan WALI SONGO yang disusun oleh Abdul Rozaq, diterbitkan oleh CV SURABAYA, agar kita tahu dan mengerti tentang mengenai seluk-beluk perjuangan para penyebar Islam di tanah Jawa.
     Di tulis sebagai Kata Pengantar bahwa "Wali adalah sosok hamba Allah yang ta'at beribadah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Wali adalah hamba yang menjadi kekasih Allah dari sekian banyak mahluk yang ada di bumi ini. WALI SONGO hanya merupakan sebuah  istilah yang sering diucapkan oleh ummat manusia sekarang ini, padahal sesungguhnya beliau (para walisongo) tidak mengenal kata songo.
Meski kisah Walisongo sebenarnya penuh kontroversial, akan tetapi kisah itu sendiri cukup menarik untuk disimak, mengingat banyak sekali hikmah dan manfaat yang dapat kita petik sebagai bekal bagi kita dalam berjuang di daerah masing-masing, yang jelas berbeda cara pandang dan penerimaan, mengingat Walisongo telah berhasil menyatukan berbagai macam golongan menjadi satu- kesatuan yang kuat  baik dari rakyat biasa maupun yang luar biasa".
Secara umum yang dianggap Walisongo di Bumi Jawa ini adalah :
     1. Syeh Maulana Malik Ibrahim ( makam di Gresik )
     2.Raden Rahmat atau Sunan Ampel (makam di Surabaya)
    3. Raden Paku atau Sunan Giri (makam di Grersik)
   4. Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang (makam di Tuban)
   5. Raden Qosim atau sunan Drajat (makam di Lamongan)
   6. Raden Syahid atau Sunan Kalijaga (makam di Kadilangu Demak Jawa Tengah)
   7. Raden Umar Syahid atau Sunan Muria (makam di Kudus, Jawa Tengah)
   8. Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus (makam di Kudus, Jawa Tengah)
   9. Syarif Hidayatulloh atau sunan Gunung Jati (makam di Cirebon, Jawa Barat)
Itulah sekelumit pengantar cuplikan dari  Buku Kisah Keteladanan WALISONGO.

Sumber dari Buku Kenang-kenangan Haul Agung ke 544 SUNAN AMPEL  memberikan keterangan tentang perngertian Wali:
Pengertian Wali menurut Al-Qur'an (surat Yunus ayat 62 sampai dengan 64) : 
   1.  Tidak mempunyai rasa takut
   2.  Tidak mempunyai kesedihan
   3.  Mereka beriman
   4.  Mereka bertaqwa (memperjuangkan kalimah Allah)
   5.  Mereka selalu gembira dengan kabar dunia & akhirat
   6.  Mereka tidak menyeleweng dari petunjuk Allah  
Catatan tersebut diterakan pada Muqodimah yang ditulis Ustad Ibrohim Ghozi, Kertosono, 1 Maret 1989. 

     TEPATNYA hari Ahad tanggal. 13 Mei 2010  pagi, yaitu setelah sholat subuh berjamaah  lebih dulu  rombongan berkumpul di Masjid Al Idris Jalan Mastrip Kota Blitar.Perjalanan kami untuk ziaroh wali limo ini termasuk tidak istimewa berhubung segala persiapannya yang sangat mendadak dan tidak terprogram bagus seperti layaknya pesiar relegius lainnya. Biarpun kesannya asal-asalan tapi ternyata kepergian ziaroh tersebut tampaknya membawa hikmah tersendiri. Saya yakin bahwa pengalaman masing-masing peserta tidak sama, tetapi secara umum rombongan sudah memenuhi apa yang di rencanakan secara mendadak tersebut.
     RUTE perjalanan kami juga tidak banyak yang disinggahi, mengingat waktu yang sangat pendek yaitu kami sepakat "berangkat habis subuh sampai tiba kembali di rumah harus sekitar jam 10 malam".
Yang namanya rencana, manusia boleh berusaha Allah SWT yang menentukan; ternyata rombongan kami pada jam 24.00  masih di makam Sunan Bonang - Tuban, Jawa Timur. Mengenai perbekalan alias bontot hemm........ tidak usah di soal, sudah disediakan Nyonya Bapak Nurwiyono Toko Lala dan ternyata menunya sungguh bergizi komplit, kami suka melahapnya. Dan cukup okey.............
     Begini, dari Masjid Al-Idris Jalan Mastrip Kota Blitar mobil kami berangkat tepat jam 05 pagi melewati Jalan Ciliwung (Blitar Kota ke Utara) dan terus melalui bendungan Lahar Kelut dan lantas melewati Desa Kedawung Ponggok, Kabupaten Blitar. Tidak lama kemudian sampailah di pasar Pathok dan terus melaju ke arah utara ke kota kecamatan Wates - Kabupaten Kediri. Selanjutnya perjalanan melaju ke Kota Pare lalu ketimur ke Kecmatan Kandangan, terus ke arah utara melwati Ngoro - Jombang dan melalui jalan menuju Mojoagung. Di pom bensin disitulah rombongan istirahat, selagi mobil isi bensin kami juga isi perut - makan pagi, mengingat waktu sudah menunjukkan jam 06.30.
     Lebih kurang jam 08.00 rombongan berangkat lagi, melaju dengan rute Kota Mojoagung - Kota Mojokerto  dan selanjutnya Kota Surabaya. Yang pertama di singgahi adalah Masjid Akbar Kota Surabaya yang biasa orang menyebutnya dengan Masjid Agung. Tiba di Masjid tersebut waktu sudah menunjukkan jam 09.00, rombongan keliling di komplek Masjid, mulai dari Menara Masjid, Lingkungan Masjid, dan Lokasi/dalam Masjid yang berlantai tiga. Lebih kurang dua jam kami di Masjid Akbar, selanjutnya rombongan menuju Jembatan Suromadu (Suroboyo - Madura), di jembatan itu kami istirahat sejenak dan foto bergantian.
Setelah istirahat kami melaju ke Madura, disitulah terjadi perhelatan sejenak, musywarah bagaimana enaknya, habis ke Pulau Madura ini adalah bukan tujuan dan tidak masuk dalam bagian program wisata relegius. Lalu diputuskan dan sepakat bahwa masing-masing personil (idep-idep) pengin tahu Kota Bangkalan, maka perjalanan dilanjutkan menuju Kota Bangkalan - Madura. Namun sayang pak sopir ternyata juga belum pernah ke Bangkalan, jadi harus tanya-tanya ke warga setempat. Ah..... ternyata ya juga ada kendala yang juga mengherankan, ternyata saudara kita di Pulau Madura ini masih ada yang tidak mengerti Bahasa Indonesia, sedang kami tidak mengerti Bahasa Madura, jadi sama saja. Hingga tiga orang......... barulah rombongan tahu mana jurusan Kota Bangkalan.
     Sesampai di Kota Bangkalan, kemudian kemana...........? Kami bengong lagi. Kemana ya enaknya......?
Kemudian tanya-tanya lagi: "Adakah di daerah ini tempat-tempat ziarah relegius ?". Ah...... ternyata ada, yaitu Makam mBah Kyai Kholil pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sedang jalan menuju kesana rombongan tidak ada yang tahu, tanya-tanya keblasuk-blasuk. Maka, mengingat waktu sudah masuk  Dhuhur rombongan cari masjid terdekat di Kota Bangkalan. Tentang Masjid yang disinggahi,  maaf penulis naskah ini lupa namanya.
     SETELAH sholat dhuhur berjamaah dengan warga sekitar, kamipun melanjutkan perjalanan dan langsung menuju Surabaya melewati daerah ujung dan naik  Kapal Verry, jadi kembalinya ke Surabaya tidak lagi lewat Jembatan Suromadu, mengingat nyeberang ujung ternyata lebih dekat. Melalui Jl.Perak Timur, Jalan Rajawali dan sampailah di Jembatan Merah, selanjutnya belok kiri melalui kawasan Wisata Relegius Sunan Ampel, maka tibalah rombongan kami di Makam Sunan Ampel lebih kurang jam 14.00. Ke Urinoir, dan setelah itu ambil wudlu selanjutnya sholat tahiyatyl asjid dan sujut syukur. Usai kelililing dalam masjid Sunan Ampel dan menikmati syahdunya suasana Masjid ampel yang sangat besar itu, rombongan menuju ziarah ke Makam sunan Apel dengan Baca Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh penulis naskah ini. Kemudian dilanjutkan ke makam - makam lainnya, seperti makam mBah Bolong, makam mBah Sholeh.,  dan kemudian rombongan melanjutkan ke makam Syeh Maulana Malik Ibrahim di Gresik.
     DIMAKAM  Syeh Maulana Malik Ibrahim, sebelum kami mengadakan upara do'a seperti di makam Sunan Ampel, yaitu baca Yasin dan Tahlil, kami melaksanakan sholat 'Asyar lebih dulu dan setelah berkililing makam dan melihat-lihat lingkungan makam kamipun foto bersama diluar makam, habis dilingkungan makam dilarang  memfoto. Disitu kami istirahat sejenak, ngongkek boyok. Kemudian perjalanan dilanjutkan ziarah ke makam Sunan Giri, tempatnya tidak jauh dari makam Syeh Maulana Malik Ibrahim lebih kurang setengah kilometer, tempatnya berbukit dan menanjak tajam.
     JALAN menuju makam mBah Sunan Giri ini saat itu sedang di rehab dengan cor beton kayak pembangunan gang-gang di Kota Blitar.  Mudah-mudahan pembangunan itu juga subsidi dari pemerintah.
Rombongan kami masih sama dengan kegiatan di makam-makam sebelumnya yaitu membaca Yasin dan Tahlil, hanya bedanya di makam Sunan Giri ini lokasinya sangat sempit jadi kesannya sangat padat dengan pen-ziarah, sehingga kami harus rela baca Yasin - Tahlil diluar dengan lokasi duduk-lesehan tak nyaman. Setelah itu kami kembali mobil, selanjutnya rmbongan meluncur ke makam  Sunan Drajat Lamongan. Diperjalanan waktu sudah menunjukkan saatnya sholat maghrib, jadi kami singgah dulu di Masjid,  di Desa Jati - Gresik.  Disini kami juga masih ada waktu untuk makan-makan biarpun hanya sedikit menghabiskan sisa perbekalan tadi pagi. Ada yang bilang: "Aja rebutan sing waras ngalah...........". Kemudian kami menuju makan Sunan Drajat, melalui jalan pantai utara, namun sayang cuaca sangat gelap jadi kami tidak bisa melihat keluar yang katanya dijalur itu panorama pantai sangat indah. Kami hanya bisa melihat ke depan, melihat jalan yang belum pernah aku lalui, jadi ya..... gimana........? Seumpama aku kesitu lagi, "jelas aku lali dalane tur keblasuk-blasuk".
Tiba di makam Sunan Drajat lebih kurang jam 19.30, dimakam ini kami tidak kompak seperti ketika ziarah kemakam sebelumnya, pating slebar memenuhi hajatnya sendiri-sendiri, maklum kondisi awak sudah lelah, dan kondisi perjalanan tampak maraton artinya tidak ada istirahat, misalnya tidur atau ngomong-ngomong santai, yang ada cuman serius saja, konsentrasi penuh dan tidak bisa diganggu gugat. Dan lagi memang di makam Sunan Drajat ini lokasinna sangat sempit dan penziarah sangat banyak dan padat, sehingga acara tahlil -yasin yang kami selenggarakan tersasa tidak nyaman dan tidak maksimal. Sumumk, gerah dan ramai sliwar-sliwer lalu-lalang orang lewat. Yaa...... pokoknya gimana gitu, sulit menggambarkan. Yang jelas karena tidak kompak, pererta Yasin-tahlil cuma empat orang saja: saya sendiri, Pak Prapto,Pak Nur, Pak Sunardi, maka usai acara tahlil-yasinpun kami keluar makam dan saling mencari. Dimana Pak Sutarjo,Pak Taufiq,dan PakMuhari kami nggak tahu dimana ia berada. Kamipun memutuskan untuk Sholat 'Isyak dulu di Musholla
dekat bakul-bakul lingkungan makam.
Usai sholat Isyak kami leha-leha keluar lokasi bakul-bakul,dan langsung menuju parkiran kendaraan, nggak tahunya mereka pak Taufiq lagi ngopi di warung sebelah parkir,Pak Tarjo tidur tiduran di bakul rokok dan Pak Muhari lagi cari soevenir,     weh ...... weh......... jebule..... !
     KEMUDIAN  rombongan melanjutkan ke makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur. Alhamdulillaah................., meskipun dengan gontai kelelahan mobilpun tetap melaju dengan tegap dan langkah pasti. Pak Sutarjo dan Pak Nurwiyono sudah tampak lelah dan ngantuk, dia kayaknya tertidur pulas, entah apa yang dia impikan. Mudah-mudahan tidak mimpi di gigit ular.Yang masih tersisa, maksudnya yang tidak bisa tidur hanya ngomong-ngomong kecil dan tak mampu untuk sendau-gurau, bisanya cuman lihat-lihat jalan depan mobil arah kemana kendaraan melaju. Mau cerita-cerita ya apa yang seritakan dan siapa yang diceritai, wong ya semuanya sudah lelah, yaa gontai-lah............! Tak lama kemudian masuklah kami ke Kota Tuban........ dan langsung menuju Makam Sunan Bonang, tiba di halaman parkir lebih kurang jam 10 malam (jam 22.00). Berhubung semuanya lapar maka diputuskan untuk makan lebih dulu. Aku lihat di parkiran banyak bakul-bakul makanan dan tampak laris, tapi kenapa kok atret dan keluar parkiran...?  E...e....e....maunya cari makanan diluar parkiran...! Ah... kenapa nggak cari yang dekat-dekat saja, sederhana, praktis, cepat saji, cepat santap, cepat makan. Benar..... apa kataku, rasain luu, muter-muter sak kota Tuban, angger bakul di endegi....., dilihat-lihat nggak cocok nggak jadi. Putar lagi......, lihat bakul lagi, nggak cocok batal lagi, sampai tujuh putaran. Sampek mumet, ngelu ngrasakne leh arep mangan. Dan terakhir ndilalah bakulnya sudah mau tutup, dan kayaknya ada persediaan terakhir, ya wis sini saja pokoke makan. Bener....... menunya Mie Goreng, Capjae, Nasi Goreng Semrawut, ah........ alhamdulillah, masio masakannya asin...... dirasa uenaaaakkkkk.......! Dan akupun selain pesan Nasi Goreng dimakan disitu, juga pesan dua bungkus Nasi Goreng Mawut dibungkus dan dibawa pulang, kata teman untuk buka pintu.
     Sesudah itu rombongan menuju makam Sunan Bonang dan dimakam tersebut yang tidak ikut masuk ke lokasi makam hanya Pak Sutarjo, selain beliau pernah ziaraoh ke makam itu, alasan kedua beliau sudah lelah, maklum usia sudah lanjut dan lagi waktu sudah sangat malam yaitu lebih kurang jam 24.00 wib. Dilokasi makam Sunan Bonang juga amat ramai dengan penziarah, sama dengan makam wali sebelumnya, ramai dan padat. Kamipun mengadakan kegiatan baca Yasin dan Tahlil hingga akhir, setelah itu meninggalkan lokasi. Usai minum kopi dan beli oleh-oleh, rombongan pulang kampung dengan hati lega dan alhamdulillaahirobbil 'alamiin.

             Untuk selanjutnya perhatikan foto-foto dibawah ini :

                            Di halaman Masjid Akbar Kota Surabaya

                             Di Menara Masjid Akbar Kota Surabaya
               

                Sewaktu istirahat di Jembatan Suromadu Surabaya Jawa Timur




      

                    Usai Sholat Jamaah Dhuhur di Masjid Kota Bangkalan Madura




    

       

                  Foto bersama  Ziaroh Sunan Malik Ibrahim Gresik  Jawa Timur

                        Kolektor dan penulis naskah: mBah Sakrip