Minggu, 01 Maret 2015

KIRAP BUDAYA DI KELURAHAN KEPANJENKIDUL - KOTA BLITAR



PADA  BULAN AGUSTUS 2014, Kelurahan Kepanjenkidul - Kota Blitar mengadakan kegiatan KIRAP BUDAYA, dan saat itu adalah yang pertama kali diadakan. Ternyata sambutan masyarakat sangat antusias, meriah dan insyaalloh kegiatan ini akan dilestarikan oleh warga.
Peserta kirap semuanya berpakaian tempo doeloe, khas wayang orang, khas ngayogjokato, dan khas nusantara lainnya.
Di Kelurahan Kepanjenkidul - Kota Blitar memang ada dua petilasan, yaitu Makam Mbah Haji Abdul Wahab yang berlokasi di Gang Pesarehan ini di yakini sebagai Cikal Bakal Akal Bakal atau orang yang pertama tinggal/babat di Kelurahan Kepanjenkidul. Dan Yang kedua adalah Makam Joyodigdan yang berlokasi di jalan Melati Kota Blitar, ini adalah seorang Patih Kadipaten Blitar  dan pernah berjuang melawan penjajah Belanda bersama-sama Pengeran Diponegoro.














Gambar dibawah ini
MAKAM DJOJODIGDAN
Cerita dibawah ini diambil dari google


Mari kita sejenak jalan-jalan ke Jalan Melati, Blitar, Jawa Timur. Di mana, kita akan mengulas sebuah cerita misteri yang penuh teka-teki mengenai sebuah makam tua atau lebih dikenal dengan nama makam gantung (dalam arti yang sebenarnya).

Konon, makam gantung ini adalah makam Eyang Joyodigo - seorang sufi yang menguasai ilmu langka: Aji Pancasoka. Ilmu yang bisa menghidupkan kembali seseorang yang mati saat jasadnya menyentuh tanah. Alasan itulah yang membuat makam Eyang Joyodigo digantung. Walau demikian, jasadnya tidak digantung melainkan dimasukkan ke dalam peti besi dengan empat penyangga.

Biran, kuncen makam gantung, menuturkan bahwa Eyang Joyodigo adalah satu-satunya orang yang menguasai Aji Pancasoka. Dalam epos Ramayang hanya satu orang yang memiliki Aji Pancasona yaitu Subali - saudara kembar Sugriwo. Keduanya bangsa kera. Saking canggihnya mulut manis Rahwana, Aji Pancasoka bisa dikuasainya.

Lalu bagaimana Eyang Joyodigo bisa menguasai Aji Pancasoka?



Biran menuturkan kembali bahwa sosok Eyang Joyodigo gemar melakukan tirakat dan laku prihatin. Pelbagai macam ilmu sudah dikuasainya.

Membicarakan Eyang Joyodigo tidak lepas juga dari sejarah. Karena dia juga dekat dengan Pangeran Diponegoro. Berikut ini adalah lansiran dari majalah Misteri:

"Dan pada tahun 1825, timbul perselisihan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro. Penyebabnya, pihak keraton bagi Diponegoro, terlalu merendahkan martabatnya. Keraton Yogyakarta, seakan-akan berdiri hanya karena kemurahan hati Belanda.

Tak hanya itu, yang membuat darah Diponegoro mendidih. Saat itu, kekuasaan raja-raja ditanah Jawa terus dipersempit. Ada lagi, kekuasaan raja disamakan dengan kedudukan pengawai tinggi pemerintahan Kolonial. Bahkan, pemerintah kolonial terlalu jauh mencampuri urusan keraton dengan cara ikut campur dalam hal pergantian raja.

Lebih menyakitkan lagi bagi Diponegoro, pihak Belanda memungut pajak jalan, ternak, rumah serta hasil bumi kepada rakyat jelata. Karena itu, ketika kompeni membuat tanda tapal batas untuk jalan yang melewati tanah leluhurnya, tanda tapal batas itu langsung dicabut.

Dengan begitu, api peperangan telah tersulut. Selama dalam masa peperangan yang berlangsung lima tahun (1825-1830), salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang setia yakni, Joyodigo. Bersama Diponegoro, Joyodigo terus melakukan perlawanan kepada Belanda.

Tak hanya sekali, tokoh sakti ini tertangkap dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang oleh Belanda, Joyodigo hidup lagi tanpa sepengetahuan kompeni.

Hingga pada akhirnya, di tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap karena siasat licik pihak kompeni. Namun walau Pangeran Diponegoro telah diasingkan ke Makasar setelah tertangkap, bukan berarti darah pejuang Joyodigo padam.

Walau saat pecah perang Pangeran Diponegoro, usianya masih menginjak sekitar 30-an. Ia terus melakukan perang gerilya bersama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Namun, karena saat itu wilayah Yogyakarta terlalu banyak penjagaan oleh kompeni, Joyodigo memilih perang gerilya menuju arah timur.

Singkat kata, dalam perjalanannya ke arah timur, setiap pos Belanda yang lengah, pasti diserang. Hingga pada akhirnya, sampailah Joyodigyo di wilayah Blitar. Di kota ini, tanpa sepengetahuan pihak penguasa Blitar saat itu, Joyodigo terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Merasa wilayahnya aman dari pemerasan kompeni, kemudian Adipati Blitar saat itu, mengirim pasukan telik sandi (intel) untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah membuat takut kompeni di wilayah Blitar.

Hingga pada akhirnya, telik sandi yang dikirim oleh sang Adipati, menemukan Joyodigo di sebuah hutan yang masuk Blitar Selatan. Atas perintah Adipati Blitar, telik sandi mengundang Joyodigo untuk datang ke pendopo.

Namun permintaan utusan Adipati Blitar ini ditolak dengan halus. Alasannya, Joyodigo saat itu, masih sibuk melatih laskar untuk mengusir kompeni.

Karena tolakan halus dari Joyodigo ini, kemudian telik sandi langsung pulang dan melapor kepada Adipati. Dua tahun kemudian, Adipati Blitar kembali mengirim utusan. Saat itu, patih di kadipaten Blitar mangkat dan harus segera dicarikan pengganti.

Maksud Adipati mengirim utusan yang kedua, agar Joyodigo bersedia menjadi pati di kadipaten Blitar. Dan karena banyak pihak kompeni yang meninggalkan Blitar lantara serangan gerilya pasukan Joyodigo, tokoh ini bersedia menerima tawaran Adipati Blitar.

Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton, ketika diangkat menjadi patih di kadipaten Blitar, Joyodigo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Patih Joyodigo mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap.

Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya tanah perdikan yang sekarang berada di Jalan Melati kota Blitar. Di tanah perdikan ini, Joyodigo kemudian membangun sebuah rumah besar untuk keluarganya dan diberinya nama, Pesanggerahan Joyodigo."
Masyarakat Blitar percaya kalau makam gantung ini wingit, selain makam Bung Karno (tidak jauh dari makam gantung ini). Dan makam gantung ini dijaga oleh dua sosok gaib dengan wujud binatang, yaitu ular sebesar batang pohon kelapa dan seekor harimau loreng sebesar anak sapi. Konon, para peziarah ada yang pernah diperlihatkan dua penunggu gaib ini. Itu karena hingga Eyang Joyodigo meninggal, penunggu gaib itu masih setia menunggu makam majikannya.

Ya, demikianlah, ulasan kita kali ini, mudah-mudahan dapat memberi manfaat kepada kalian semua.
  


Di unggah oleh: mBah Sakrip

Sabtu, 01 November 2014

SERUNYA PILIHAN KETUA RT DAN RW




MEMBANGUN Negara dimulai dari RT-RW, itulah sedikit kata orang yang umum dipergunakan untuk memulai melangkahkan idenya sebelum mereka melakukan sesuatu yang lebih jauh.
Namun ada juga orang yang melakukan seseuatu itu dari yang lebih luas di dahulukan, baru yang sekala kecil dikerjakan kemudian. Dari uraian diatas maka dapatlah semuanya perlu untuk didalami makna yang lebih rinci agar kita dapat mengerti atau paling tidak kita bisa mengetahui landasan asal-usulnya.
     RT singkatan dari Rukun Tetangga dan RW adalah Rukun Warga. Keduanya adalah tonggak segala informasi dalam pembangunan negara, mulai dari pembangunan ekonomi,politik, sosial maupun budaya. Satu RT bisa terdiri dari 100 Kepala Keluarga atau lebih dan satu RW rata-rata 400 Kepala Keluarga (KK). 
           Mungkin ada yang belum tahu fungsi, tugas, dan tanggung jawab dari perangkat RT/RW? Materi di bawah ini semoga bisa membantu bagi yang ingin tahu tentang fungsi, tugas, dan tanggung jawab adalah sebagai berikut :

RT Mempunyai tugas :

a. Membantu menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota;
b. Memelihara Kerukunan hidup warga;
c. Menyusun rencana dan melaksanakan pembangunan dengan mengembangkan aspirasi dan swadaya murni masyarakat.

Dalam melaksanakan tugas, RT mempunyai fungsi :
a. Pengkoordinasian antar warga;
b. Pelaksanaan dalam menjembatani hubungan antar sesama anggota masyarakat dengan Pemerintah Daerah;
c. Penanganan masalah-masalah kemasyarakatan yang dihadapi warga.

Rukun Warga, 
Untuk selanjutnya disingkat RW atau sebutan lainnya adalah bagian dari kerja lurah dan merupakan lembaga yang dibentuk melalui musyawarah pengurus RT di wilayah kerjanya yang ditetapkan oleh Pemerintah Desa atau Lurah  

          Sedangkan landasan dari Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Kelurahan, sebenarnya apa saja fungsi, tugas, dan tanggung jawab dari perangkat RT/RW, bisa disimak melalui Peraturan Menteri Dalam Negri no. 5/2007.

MENGENAI PEMILIHAN KETUA RT/RW
           Di tempat tinggal kami di RW VI Kelurahan Kepanjenkidul - Kota Blitar , pemilihan Ketua RT dan RW ini termasuk kategori rapi baik kepanitiaan maupun administrasinya, sebagian dikelola dengan menggunakan sistemnya pilihan legislatif maupun pilihan presiden. Dari segi adminitrasi ada daftar pemilih tetap (DPT), Daftar Kandidat Calon Ketua RT dan RW, ada Surat Undangan memilih ketua RT dan RW, ada Kartu Suara, Daftar Hadir, Kotak Suara, dan Lembar Plano. Sedang hasilnya dipindah ke lembar berita acara untuk dilaporkan ke tingkat Kelurahan. 
       Panitia pemilihan sebelum melangkah, terlebih dahulu mengadakan musyawarah bersama warga Tokoh Masyarakat, menyusun peraturan yang akan dipakai dalam pemilihan Ketua RT dan RW nanti. Sehingga hasil pemilihan bisa diterima oleh semua pihak.


Bapak Umarianto Ketua RW VI  lagi memberikan sambutan dan  penjelasan terkait dengan Pentingnya Pilihan Ketua RT dan RW



      Dibawah ini gambar-gambar persiapan dan pelaksanaan pemilihan RT/RW

















BAPAK LURAH KEPANJENKIDUL RUSLI EFENDI MEMBERIKAN SAMBUTAN ATAS SUKSESNYA PEMILIHAN KETUA RT  DAN RW DI  RW VI LINGKUNGAN MASTRIP KEC KEPANJEN KIDUL  KOTA BLITAR TANGGAL 26 OKTOBER 2014
Warga dan Panitia dengan seksama mengikutinya

Cameramen Mas Ummar - Penulis Naskah dan colektor mBah Sakrip






Sabtu, 07 Desember 2013

MASJID AL MUBAROK jalan Melati 47- Kota Blitar Jatim

         
MASJID AL MUBAROK  yang berlokasi di jalan Melati No 47 - Kota Blitar memang dibilang unik. Sebenarnya sih biasa-biasa saja seperti halnya mesjid-mesjid lainnya, namun karena lokasi dan penggarapan yang tepat menjadikan masjid tersebut tampak sangat unik. Lokasi parkir luas, bisa istirahat dengan nyaman, aman, bisa sholat dengan khusuk, yaa pokoknya okelah. Seperti jika dilihat dari sisi sudut utara agak ketimur, kemegahan masjid itu tampak dengan jelas, warna cat dengan kombinasi menarik ,biru tua dan biru muda ,membuat sejuk siapa saja yang melihatnya. Sehingga para wisatawan yang singgah disitu mengatakan kepada teman-temannya "itu  MASJID BIRU....!".  Bahkan ada yang angkat HP dan teriakin temannya  "aku sudah sampai di MASJID BIRU............!.
            Kegiatan yang pernah dan tengah dilaksanakan :
1. Sholat Rowatib   2. Sholat Jum'at    3. Sholat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha    4.  Pengajian Rutin  setiap Rabu malam Kamis minggu pertama setiap bulan (ba'dal "isyak) oleh KH Buya Yahya      5. Rabu malam Kamis ba'dal sholat maghrib oleh Ustadz Ky. Nasrudin Mubin dari Blitar    6. Hari Jum'at habis sholat subuh (kuliah subuh) oleh Ustadz Ky. Muhajir  dari Garum Blitar.   7. P H B I
          Jalan Melati No.47 - Kota Blitar, tidak sulit utnuk dicari. Jika anda berada di kawasan Kota Kediri menyusuri jalan menuju Kota Tululungung, sampai di jembatan Ngantru lalu beloklah ke kiri (arah ketimur), lurus saja lebih kurang 23 Km  maka sapailah ke Kota Blitar, masuk Jalan Tanjung ketimur parapatan Kawi maka sampailah di jalan Melati.  
          Jika anda berada di Kota Malang, ke arah barat sesampai di Pertigaan Bendogerit lalu belok selatan, sesampai di perempatan Karangtengah lalu belok ke arah Barat, sesampai  di Masjid Usisalitaqwa Plosokerep (stopan) beloklah ke kanan, lebih kurang 600 M ada pertigaan Melati.... yaaa itulah Jalan Melati - Kota Blitar. Mudahkan........... Tidak ada yang sulit kan...?  Ayoo.... gemrudug nang Mesjid Al Mubarok,  ngibadah disik, aja mlaku terus....!













 
                                         Saat ini sedang dibangun                                                                        KANTOR TA'MIR, RUANG RAPAT  DAN TPQ, POS KEAMANAN DAN PARKIR KENDARAAN   (  2 September 2014 / Syawal 1435 )







MESIN INI SUMBANGAN DARI 
ALMARHUM BPK HAJI BUDIMAN SANAN WETAN
SANGAT BERJASA UNTUK PEMBANGUNAN
MASJID AL-MUBAROK


Jikalau lagi ada kegiatan plataran parkir penuh dengan motor
tumpah - ruah....
DIBAWAH INI KEGIATAN ISTIGHOTSAH
SMK NEG I KOTA BLITAR TGL 4 APRIL 2015



GAMBAR DIBAWAH INI 
KEGIATAN FATAYAT NU CABANG KOTA BLITAR
DALAM PERTEMUAN RUTIN DI LANTAI I
TANGGAL 19 APRIL 2015

Ibu Sriatin Ketua Cabang Fatayat NU Kota Blitar
memberikan sambutan dalam pertemuan rutin Ahad Pon




Anggota Fatayat NU  tampak tetap bersemangat
dalam setiap anggeda kegiatan


Berikutnya tanggal 21 April 2015
Paud Arrohmah Kel Kepanjenkidul
lagi-lagi memadati plataran parkir Masjid Al Mubarok
dalam rangka Parade Jadul dan Peringatan Hari Kartini
parkirnya hingga meluber di jalan



                   ======: penulis dan kolektor : mBah Sakrip:=====

Selasa, 18 Desember 2012

WALI PITU DI PULAU BALI penyebar Agama Islam ala Ahlisunnah Wal Jamaah

          Ditulis oleh seorang habib dari Kota Sidoarjo Jawa Timur bernama CHABIB TOYYIB ZAEN ARIFIN ASSEGAF, pada tahun 1998 telah diterbitkannya sebuah buku SEJARAH WUJUDNYA MAKAM WALI PITU DI BALI. Buku tersebut adalah sebuah himpunan penelitian ilmiah oleh Team Peneliti dari Jamaah Manaqib Al Jamali Jawa - Madura - Bali Indonesia.
         
           Dalam Buku tersebut antara lain Penulis menuturkan bahwa wujudnya Makam Wali Pitu di Pulau Bali tersebut adalah awal dari penelitian yang diadakan oleh satu Team dari Jamaah Manaqib Al Jamali  yang perlu ditindak lanjuti penyelidikan dan penelitiannya lebih mendalam untuk mendapatkan bukti-bukti otentik tentang keberadaan makam itu sendiri, terutama menggali dan meneliti sejarah hidup dari masing-masing Wali yag dimakamkan termasuk mencari data nasab, keturunan dan asal usulnya, benda-benda peninggalannya, perjuangannya, pengorbanannya, terutama mencari dan meneliti adanya suatu tonggak prasasti untuk dijadikan bukti otentik terjadinya peristiwa sejarah yang benar dan untuk keperluan tersebut sangat dibutuhkan waktu yang panjang, ketekunan dan kejelian serta terus berusaha tanpa mengalami putus asa. 

          SUSUNAN MAKAM WALI PITU DI BALI  ( Sab'atul Auliya')

1. Pangeran Mas Sepuh / Syeh Ahmad Hamdun Choirussoleh / Raden       Amangkuringrat.  Makamnya di Desa Munggu. Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Di Kenal dengan Makam Keramat Pantai Seseh.

2. Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi,  makamnya diatas bukit Bedugul Kabupaten Tabanan. Dikenal dengan  Makam Keramat Bedugul  

3. Chabib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid, makamnya di kampung Islam Kusumba Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan  Makam Keramat Kusumba.

4.  Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi, makamnya di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Babandem, Kabupaten Karangasem. Dikenal dengan  Makam Keramat Kembar

5.  Chabib Ali Bin Zainul Abidin Al Idrus, makamnya di Desa Bungaya Kangin Kecamatan Babandem, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan Makam Keramat Kembar. 

6.  The Kwan Lie  bergelar :  Syeh Abdul Qodir Muhammad, makamnya di Desa Temukus, Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Dikenal dengan  Makam Keramat Karang Rupit. 

7.  Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih, makamnya di jalan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Dikenal dengan Makam Keramat Loloan. 


SEKILAS SEJARAH PENEMUAN MAKAM WALI PITU BALI.
          Penemuan Wali Pitu di Bali, diawali dengan petunjuk-petunjuk yang dialami oleh seseorang yang bernama Chabib Toyyib Zaen Arifin Assegaf. Beliau adalah Pengasuh Jam'iyah Manaqib Al Jamali ( Jawa - Madura - Bali ), Yakni tepatnya pada bulan Muharrom Tahun 1412 H / 1992 M. 
          Petunjuk-petunjuk tersebut diperoleh secara sirri dan berangsur-angsur laksana Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
         Petunjuk-petunjuk tersebut diperoleh melalui hembusan suara sayup dalam bahasa Jawa, diantaranya berbunyi :
a. "Wis keporo nyoto ing tlatah Bali iku kawengku dining pitu piro-piro Wali  coba wujudna"
      Artinya :
       Di Daerah Bali telah nyata dihuni oleh tujuh para Wali  coba wujudkan. 

b.


 











 

Minggu, 17 Juni 2012

Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Agung Muhammad SAW di Kampung Mataraman Jalan Seruni Kota Blitar

     Di malam yang penuh barokah, Ahad malam Senen, tanggal 27 Rojab 1433 H yang bersamaan dengan tanggal 17 Juni 2012 M, warga RW V dan VI Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengadakan perayaan dalam rangka Peringatan Isro' wal Mi'roj Nabi Agung Muhammad SAW, bertempat di Kampung Mataraman Jalan Seruni Kota Blitar. Memang peringatan Hari Hari Besar Islam seperti yang dilaksanakan pada malam itu, tiap tahun tidak pernah absen. Terkadang dilaksanakan dengan bentuk lesehan, namun pada malam itu pelaksanaan peringatan sangat istimewa, dilaksanakan diatas panggung dan dilengkapi dengan hiburan musik sholawat oleh ibu-ibu jamaah yasin tahlil RW V dan VI yang dipandu dengan Electone Diana pimpinan Bapak Tony Sumartono SH.
     Ketua Panitia Bapak Drs. Ismayadi dan dibantu oleh semua warga hingga pelaksanaan peringatan malam itu sukses dan menggembirakan biarpun disana sini mungkin ada kekurangan yang tidak berarti, tapi cukup puas.
     Susunan acara nya sebagai berikut : Pra acara Musik Sholawat, Inti Acara sbb.: Pembukaan, pembacaan ayat suci Al Qur'an oleh Ustad Muhammad Shohib, sambutan Ketua Panitia (Bp Drs Ismayadi),  sambutan Ketua RW V/VI oleh Bp Arif Kucoro Jati, sambutan Camat Kepanjenkidul diwakili oleh Sekcam, diselingi Musik Sholawat, dan terakhir Tausiah oleh Ustad KH. Muhammad Arif Zamroni SH, MHi,MM dari Kademangan Blitar. Dan Acara ini dipandu oleh Sdr. Agus Irianto dari RW VI. 
     Dalam sambutan Ketua Panitia yang disampaikan Bapak Drs Ismayadi, mengatakan bahwa dalam Pelaksanaan Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW malam ini kami segenap Panitia sudah berusaha keras sesuai dengan program yang telah dicanangkan, hingga pada malam ini pelaksanaannya yang dapat kita nikmati bersama. Ini semua bertkat bantuan dan partisipasi semua warga, mudah-mudahan acara pada malam ini dapat berlangsung sukses dan memuaskan. Namun bila disana-sini masih ada kekurangan, kami selaku manusia biasa mohon maaf  dan semoga Alloh SWT mengampuninya.
     Kemudian sambutan Ketua RW V / VI, yang disampaikan oleh Bapak Arif Kuncoro Jati (ketua RW V), mengatakan bahwa beliau mengucapkan banyak-banyak terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan semua warga RW V/VI atas kekompakannya dalam melaksanakan setiap kegiatan khususnya kegiatan Peringatan Hari Hari Besar Islam selalu dibersamakan. Memang ini adalah kegiatan yang sudah dirintis oleh para pendahulunya dan perlu dilestarikan sebagai bentuk ukhuwah Islamiah / kebersamaan, persatuan dan kesatuan. 
     Sambutan dari camat Kepanjenkidul yang diwakili oleh Sekcam, menyampaikan rasa bangga atas terselenggarakannya peringatan Isro' Mi'roj pada malam itu sebegai bentuk kepedulian warga RW V/VI  dalam mengenang betapa perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mendekatkan diri ummatnya kepada Alloh SWT dengan Sholat yang diperintahkan langsung oleh Alloh SWT. Oleh karena itu domohon kepada semua Ummat Islam untuk tetap menjaga dan menegakkan Sholat ini sebagai amalan atas perintah Alloh SWT dengan penuh ikhlas dan tawadhu'.
     Ustad KH Muhammad Arif Zanroni SH,MHi,MM, memberikan tausiah yang sangat luas dan ternyata mudah diterima oleh para samiin. Dengan menggunakan methode dialog, ternyata para samiin mau diajak berlama-lama dan betah mengikuti tausiahnya. 

 Pada Intinya Tausiah beliau sbb.:

1. Al kisah Kampung Mataraman
     Penyebaran Islam di Tanah Jawa, ternyata tidak lepas dari Raja Jawa Sultan Agung yang berkedudukan di Jogjakarta. Waktu itu dikenal dengan para pandeganya seperti Pangeran Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro yang memiliki murid kinasih yang sangat banyak di tanah Jawa hingga disebut oleh para peneliti menjadi julukan Islam Jawa. Dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol kalah perang dengan penjajah Belanda hingga santri-santrinya bertebaran  keseluruh Tanah Jawa khusunya di Jawa Timur  kawasan selatan, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Blitar dan Malang.       
      Mereka inilah santri dan juga lasykar Pangeran Diponegono menyebarkan Islam  di kampung-kampung sambil berdagang. Kemudian lama-lama mereka adaptasi dengan warga setempat dan bertempat tinggal di daerah itu secara berkelompok, hingga disebutlah tempat tinggal mereka itu Kampung Mataraman. Dan ini hampir ada di setiap kabupaten mesti ada orang dari mataram. Biasanya penyebar agama Islam versi laskar Pangeran Diponegoro, halaman rumah tinggalnya di tandai dengan tanaman buah Sawo. Konon katanya untuk memudahkan teman-teman seperjuangannya untuk mencarinya. Termasuk yang ada di lingkungan Mastrip Kepanjenkidul Kota Blitar. Mereka - mereka inilah penyebar Islam yang kiranya  perlu disyukuri dan diteruskan perjuangannya, tentu saja melalui keturunannya, anak, cucu, buyut, canggah dan seterusnya mempunyai kuwajiban untuk memelihara dan melestarikannya hingga akhir zaman.
     Menurut pengamatan penulis di kawasan kelurahan Kepanjenkidul ini, tampaknya sudah sejak dulu banyak orang-orang penyebar Islam dari Mataram - Jogajakarta. Salah satu bukti otentiknya adalah di utara rel Kereta Api  sekarang bersebelahan dengan kampung Srigading yang dikenal dengan Gang Pesarehan ada makam yang kata masyarakat setempat adalah makam mBah Haji Abdul Hadi dari Mataram.  
     Oleh karena itu sudah selayaknyalah jikalau generasi penerus yang khususnya berdomisili di kampung Mataraman ini tetap melestarikan perjuangan Islam sesuai dengan yang dilakukan oleh para nenek moyangnya.

2.  Menjaga kemandirian Islam di tingkat keluarga 
     Sebenarnya manusia itu terdiri dari dua(2) unsur, yaitu Badan Wadag ( Jasmani ) dan Ruhani. Pada saatnya kedua-duanya akan kembali kepada asalnya. Badan Jasmani jikalau manusia sudah meninggal dunia akan kembali ke tanah, sebab memang menurut asal usulnya badan jasmani Anak  Adam diciptakan oleh Allah SWT dari tanah. Sedangkan Ruh akan kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT dengan membawa sejumlah pertanggungjawaban.
     Uraian diatas yang perlu digaris bawahi adalah kata-kata "pertangungjawaban". Tanggung jawab sebagai manusia  yang mengabdi kepada Allah SWT selaku penciptanya, ini hanya bisa dilalui dengan sebuah keluarga. Dari dalam keluarga inilah manusia akan berusaha untuk menjadikan keturunannya berahlak baik, yang biasanya dijadikan keturunannya menjadi anak sholih - sholihah.   Ini melalui proses yang panjang dan tidak mudah.  Cobalah kita perhatikan mengenai sejarahnya, dimulai dari dua insan manusia yang berlainan jenis kelamin. Untuk memulainya biasanya diawali dengan pacaran yang semestinya tidak perlu terjadi. Sebab pacaran artinya kan untuk mengenal lebih dekat antara laki-laki dan perempuan secara individual. Dan ini pasti bukan muhrimya. Dalam keyakinan Islam, berpandangan saja dengan lain jenis lebih dari satu kali antara laki-laki dan perempuan bukan muhrimnya hukumnya haram, apalagi bersama-sama, berboncengan kesana kemari itu perbuatan yang sangat dilarang dan bentuk pelanggaran.
     Selanjutnya untuk menjadikan dia istrinya atau suaminya harusnya melalui proses ada Ijab-qobul dari calon mempelai laki-laki dengan pihak wali perempuan  dan diperkuat dengan Mas Kawin atau Mahar dan pula disaksikan paling sedikit dua orang. Jadi tidak asal kamu jadi istriku atau kamu jadi suamiku.
     Kemudian untuk membuat anak pada saat akan berhubungan badan antara suami - istri harusnya keduanya bersuci dan berdoa kepada Allah SWT agar dijauhkan dari godaan syaithon dan mohon kepada Allah SWT diberkahi anak Sholih-sholihah. Jikalaulah sang istri lagi hamil maka keduanya harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya suami-istri ibadahnya ditingkatkan, prilakunya ahlakul karimah, dan selal;u menjaga kesehatan calon bayi dan ibunya.
     Kalau saat  lahir, anak diperdegarkan adzan dan iqomah di telinga kanan  oleh Bapaknya, ari-arinya di timbun ditanah sebab asal manusia memang darti tanah.Proses selanjutnya membesarkan dan mendidik, artinya memberikan adabiyah/kebiasaan anak untuk berahlakul karimah, mendidik dan menjadikan anak untuk mengerti.
     Itulah maka sebagai orang tua seharusnya memiliki tanggungjawab yang besar terhadap anak-anaknya untuk memasukkah nilai-nilai Islam kepadanya dengan cara membiasakan anak mengerti dan mengerjakan sholat, mengerti dan bisa membaca Kitab Sucinya yaitu Al Qur'an. Mimbiasakan keluarga sholat berjamaah di rumah, di musholla atau di masjid agar anak nantinya tidak malu ke masjid dan mengerti tata cara masuk masjid, sebab sholat berjamaah dimasjid antara lain bermanfaat  bisa bergaul (silaturohim) dengan ummat Islam lainnya dan lain sebagainya. Insyaallah jikalau itu semua di penuhi maka Islam di tingkat keluarga akan dapat dijadikan tolok ukur pengembangannya dimasyarakat. Disitulah maka akan tampak keseimbangan. klop. (jawa = sumbut), sesuai antara cita-cita dan jerih payah.


3. Kemana meningkatkan pengetahuan diniyah
     Untuk meningkatkan pengetahuan diniyah keluarga tidak perlu jauh-jauh, jikalau dirumah sendiri tidak ada yang berpengetahuan cukup, silahkanlah cari TPQ terdekat, disitulah kita akan mendapatkan bimbingan, informasi mengenai agama Islam. Atau lebih praktis lagi keluarga memanggil guru ngaji secara privat dirumah, maka akan lebih terfokus untuk segenap keluarga, yaitu bapak, ibu dan anak-anak. Pengetahuan Islam bisa lebih jauh lagi ditempuh di Pondok-pondok Pesantren, Madrosah - madrosah dan perguruan tinggi Islam yang sudah tersebar diseantero dunia. Tinggal kita ada minat apa tidak.
     Oleh karena itu marilah kita sama-sama berusaha untuk meningkatkan Pengetahuan Islam ini agar tidak ketinggalan. Semoga Allah SWT selalu memberikan ma'unah dan hidayah kepada kita semua. Amin yaa robbal 'alamiin.

                                 ( Notulis dan Kolektor  : mBah Sakrip )
     

     










     

Kamis, 24 Mei 2012

Kelompok Belajar Membaca Al - Qur'an

DI KELURAHAN KEPANJENKIDUL Kota Blitar cukup  banyak kelompok-kelompok kaum muslimin untuk belajar membaca Kitab Sucinya yaitu Al Qur'an. Kelompk itu ada yang menamakan dirinya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an, Kelompok Pengajian, dan bahkan ada yang berbentuk Kelompok Belajar atau Ngaji.
Di Masjid Al Idris jalan Mastrip No. 1 - 3 yang dirintis oleh mBah Sakrip, ini adalah semacan Kelompok Belajar Membaca Kitab suci Al Qur'an yang dibina oleh seorang pembimbing.

Minggu, 04 Maret 2012

BAROKAH WIJAYA, waroeng lesehan, di Desa Pojok Garum, Blitar, Jawa Timur

Reuni Keluarga KH Basuni, Blitar, ternyata berlangsung tidak hanya di rumah-rumah keluarga masing-masing dzurriah, tetapi juga bisa dan boleh dilaksanakan di rumah - rumah makan atau diwaroeng-waroeng. Seperti hari ini Minggu tanggal 4 Maret 2012, reuni kali ini dilaksanakan di WAROENG LESEHAN BAROKAH WIJAYA milik keluarga Bapak Drs  Muhammad Dirgantoro, rumah Jalan Seruni Kota Blitar. Malah sebelum itu,yaitu 10 tahun yang lalu reuni keluarga KH Basuni bertempat di taman wisata CANDI PENATARAN  dan di lokasi  Makam Syeh Subakir yang bersebelahan dengan Candi Penataran , Blitar, Jawa Timur.
    Susunan Acara Reuni Kuluarga masih tetap tidak berubah, yaitu baca Kalimah Thoyibah Tahlil kepada para leluhur dzurriyah, kemudian dilajutkan dengan nasehat para pinisepuh.
MC dibawakan oleh Bapak Haji Zaenal Fanani - Desa Karangsono-Kanigoro-Blitar, Tahlil di pimpin oleh mBah Sakrip, Jalan Seruni-Kota Blitar dan Nasehat oleh Bapak Haji Muhajir Jl. sruni kota Blitar. Isi mengenai nasehat ditekankan mengenahi "cara berwudlu dan tata cara sholat yang benar". engenai berwudlu dan tata cara sholat juga diberikan contoh-contoh agar selanjutnya bisa ditiru dan dilaksanakan.
     Jika dalam reuni tersebut kali ini diawali dengan makan siang, maka akhirnya ditutup dengan bacaan sholawat dan salam-salaman.
     Salam hangat dan sampai jumpa dalam reuni mendatang di rumah Pak Sueb Yuyun, Pakunden.

Penulis naskah dan kolektor : mBah Sakrip