Sabtu, 07 Desember 2013

MASJID AL MUBAROK jalan Melati 47- Kota Blitar Jatim

         
MASJID AL MUBAROK  yang berlokasi di jalan Melati No 47 - Kota Blitar memang dibilang unik. Sebenarnya sih biasa-biasa saja seperti halnya mesjid-mesjid lainnya, namun karena lokasi dan penggarapan yang tepat menjadikan masjid tersebut tampak sangat unik. Lokasi parkir luas, bisa istirahat dengan nyaman, aman, bisa sholat dengan khusuk, yaa pokoknya okelah. Seperti jika dilihat dari sisi sudut utara agak ketimur, kemegahan masjid itu tampak dengan jelas, warna cat dengan kombinasi menarik ,biru tua dan biru muda ,membuat sejuk siapa saja yang melihatnya. Sehingga para wisatawan yang singgah disitu mengatakan kepada teman-temannya "itu  MASJID BIRU....!".  Bahkan ada yang angkat HP dan teriakin temannya  "aku sudah sampai di MASJID BIRU............!.
            Kegiatan yang pernah dan tengah dilaksanakan :
1. Sholat Rowatib   2. Sholat Jum'at    3. Sholat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha    4.  Pengajian Rutin  setiap Rabu malam Kamis minggu pertama setiap bulan (ba'dal "isyak) oleh KH Buya Yahya      5. Rabu malam Kamis ba'dal sholat maghrib oleh Ustadz Ky. Nasrudin Mubin dari Blitar    6. Hari Jum'at habis sholat subuh (kuliah subuh) oleh Ustadz Ky. Muhajir  dari Garum Blitar.   7. P H B I
          Jalan Melati No.47 - Kota Blitar, tidak sulit utnuk dicari. Jika anda berada di kawasan Kota Kediri menyusuri jalan menuju Kota Tululungung, sampai di jembatan Ngantru lalu beloklah ke kiri (arah ketimur), lurus saja lebih kurang 23 Km  maka sapailah ke Kota Blitar, masuk Jalan Tanjung ketimur parapatan Kawi maka sampailah di jalan Melati.  
          Jika anda berada di Kota Malang, ke arah barat sesampai di Pertigaan Bendogerit lalu belok selatan, sesampai di perempatan Karangtengah lalu belok ke arah Barat, sesampai  di Masjid Usisalitaqwa Plosokerep (stopan) beloklah ke kanan, lebih kurang 600 M ada pertigaan Melati.... yaaa itulah Jalan Melati - Kota Blitar. Mudahkan........... Tidak ada yang sulit kan...?  Ayoo.... gemrudug nang Mesjid Al Mubarok,  ngibadah disik, aja mlaku terus....!













 
                                         Saat ini sedang dibangun                                                                        KANTOR TA'MIR, RUANG RAPAT  DAN TPQ, POS KEAMANAN DAN PARKIR KENDARAAN   (  2 September 2014 / Syawal 1435 )





                   ======: penulis dan kolektor : mBah Sakrip:=====

Selasa, 18 Desember 2012

WALI PITU DI PULAU BALI penyebar Agama Islam ala Ahlisunnah Wal Jamaah

          Ditulis oleh seorang habib dari Kota Sidoarjo Jawa Timur bernama CHABIB TOYYIB ZAEN ARIFIN ASSEGAF, pada tahun 1998 telah diterbitkannya sebuah buku SEJARAH WUJUDNYA MAKAM WALI PITU DI BALI. Buku tersebut adalah sebuah himpunan penelitian ilmiah oleh Team Peneliti dari Jamaah Manaqib Al Jamali Jawa - Madura - Bali Indonesia.
         
           Dalam Buku tersebut antara lain Penulis menuturkan bahwa wujudnya Makam Wali Pitu di Pulau Bali tersebut adalah awal dari penelitian yang diadakan oleh satu Team dari Jamaah Manaqib Al Jamali  yang perlu ditindak lanjuti penyelidikan dan penelitiannya lebih mendalam untuk mendapatkan bukti-bukti otentik tentang keberadaan makam itu sendiri, terutama menggali dan meneliti sejarah hidup dari masing-masing Wali yag dimakamkan termasuk mencari data nasab, keturunan dan asal usulnya, benda-benda peninggalannya, perjuangannya, pengorbanannya, terutama mencari dan meneliti adanya suatu tonggak prasasti untuk dijadikan bukti otentik terjadinya peristiwa sejarah yang benar dan untuk keperluan tersebut sangat dibutuhkan waktu yang panjang, ketekunan dan kejelian serta terus berusaha tanpa mengalami putus asa. 

          SUSUNAN MAKAM WALI PITU DI BALI  ( Sab'atul Auliya')

1. Pangeran Mas Sepuh / Syeh Ahmad Hamdun Choirussoleh / Raden       Amangkuringrat.  Makamnya di Desa Munggu. Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Di Kenal dengan Makam Keramat Pantai Seseh.

2. Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi,  makamnya diatas bukit Bedugul Kabupaten Tabanan. Dikenal dengan  Makam Keramat Bedugul  

3. Chabib Ali Bin Abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid, makamnya di kampung Islam Kusumba Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan  Makam Keramat Kusumba.

4.  Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi, makamnya di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Babandem, Kabupaten Karangasem. Dikenal dengan  Makam Keramat Kembar

5.  Chabib Ali Bin Zainul Abidin Al Idrus, makamnya di Desa Bungaya Kangin Kecamatan Babandem, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan Makam Keramat Kembar. 

6.  The Kwan Lie  bergelar :  Syeh Abdul Qodir Muhammad, makamnya di Desa Temukus, Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Dikenal dengan  Makam Keramat Karang Rupit. 

7.  Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih, makamnya di jalan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Dikenal dengan Makam Keramat Loloan. 


SEKILAS SEJARAH PENEMUAN MAKAM WALI PITU BALI.
          Penemuan Wali Pitu di Bali, diawali dengan petunjuk-petunjuk yang dialami oleh seseorang yang bernama Chabib Toyyib Zaen Arifin Assegaf. Beliau adalah Pengasuh Jam'iyah Manaqib Al Jamali ( Jawa - Madura - Bali ), Yakni tepatnya pada bulan Muharrom Tahun 1412 H / 1992 M. 
          Petunjuk-petunjuk tersebut diperoleh secara sirri dan berangsur-angsur laksana Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
         Petunjuk-petunjuk tersebut diperoleh melalui hembusan suara sayup dalam bahasa Jawa, diantaranya berbunyi :
a. "Wis keporo nyoto ing tlatah Bali iku kawengku dining pitu piro-piro Wali  coba wujudna"
      Artinya :
       Di Daerah Bali telah nyata dihuni oleh tujuh para Wali  coba wujudkan. 

b.


 











 

Minggu, 17 Juni 2012

Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Agung Muhammad SAW di Kampung Mataraman Jalan Seruni Kota Blitar

     Di malam yang penuh barokah, Ahad malam Senen, tanggal 27 Rojab 1433 H yang bersamaan dengan tanggal 17 Juni 2012 M, warga RW V dan VI Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengadakan perayaan dalam rangka Peringatan Isro' wal Mi'roj Nabi Agung Muhammad SAW, bertempat di Kampung Mataraman Jalan Seruni Kota Blitar. Memang peringatan Hari Hari Besar Islam seperti yang dilaksanakan pada malam itu, tiap tahun tidak pernah absen. Terkadang dilaksanakan dengan bentuk lesehan, namun pada malam itu pelaksanaan peringatan sangat istimewa, dilaksanakan diatas panggung dan dilengkapi dengan hiburan musik sholawat oleh ibu-ibu jamaah yasin tahlil RW V dan VI yang dipandu dengan Electone Diana pimpinan Bapak Tony Sumartono SH.
     Ketua Panitia Bapak Drs. Ismayadi dan dibantu oleh semua warga hingga pelaksanaan peringatan malam itu sukses dan menggembirakan biarpun disana sini mungkin ada kekurangan yang tidak berarti, tapi cukup puas.
     Susunan acara nya sebagai berikut : Pra acara Musik Sholawat, Inti Acara sbb.: Pembukaan, pembacaan ayat suci Al Qur'an oleh Ustad Muhammad Shohib, sambutan Ketua Panitia (Bp Drs Ismayadi),  sambutan Ketua RW V/VI oleh Bp Arif Kucoro Jati, sambutan Camat Kepanjenkidul diwakili oleh Sekcam, diselingi Musik Sholawat, dan terakhir Tausiah oleh Ustad KH. Muhammad Arif Zamroni SH, MHi,MM dari Kademangan Blitar. Dan Acara ini dipandu oleh Sdr. Agus Irianto dari RW VI. 
     Dalam sambutan Ketua Panitia yang disampaikan Bapak Drs Ismayadi, mengatakan bahwa dalam Pelaksanaan Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW malam ini kami segenap Panitia sudah berusaha keras sesuai dengan program yang telah dicanangkan, hingga pada malam ini pelaksanaannya yang dapat kita nikmati bersama. Ini semua bertkat bantuan dan partisipasi semua warga, mudah-mudahan acara pada malam ini dapat berlangsung sukses dan memuaskan. Namun bila disana-sini masih ada kekurangan, kami selaku manusia biasa mohon maaf  dan semoga Alloh SWT mengampuninya.
     Kemudian sambutan Ketua RW V / VI, yang disampaikan oleh Bapak Arif Kuncoro Jati (ketua RW V), mengatakan bahwa beliau mengucapkan banyak-banyak terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan semua warga RW V/VI atas kekompakannya dalam melaksanakan setiap kegiatan khususnya kegiatan Peringatan Hari Hari Besar Islam selalu dibersamakan. Memang ini adalah kegiatan yang sudah dirintis oleh para pendahulunya dan perlu dilestarikan sebagai bentuk ukhuwah Islamiah / kebersamaan, persatuan dan kesatuan. 
     Sambutan dari camat Kepanjenkidul yang diwakili oleh Sekcam, menyampaikan rasa bangga atas terselenggarakannya peringatan Isro' Mi'roj pada malam itu sebegai bentuk kepedulian warga RW V/VI  dalam mengenang betapa perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mendekatkan diri ummatnya kepada Alloh SWT dengan Sholat yang diperintahkan langsung oleh Alloh SWT. Oleh karena itu domohon kepada semua Ummat Islam untuk tetap menjaga dan menegakkan Sholat ini sebagai amalan atas perintah Alloh SWT dengan penuh ikhlas dan tawadhu'.
     Ustad KH Muhammad Arif Zanroni SH,MHi,MM, memberikan tausiah yang sangat luas dan ternyata mudah diterima oleh para samiin. Dengan menggunakan methode dialog, ternyata para samiin mau diajak berlama-lama dan betah mengikuti tausiahnya. 

 Pada Intinya Tausiah beliau sbb.:

1. Al kisah Kampung Mataraman
     Penyebaran Islam di Tanah Jawa, ternyata tidak lepas dari Raja Jawa Sultan Agung yang berkedudukan di Jogjakarta. Waktu itu dikenal dengan para pandeganya seperti Pangeran Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro yang memiliki murid kinasih yang sangat banyak di tanah Jawa hingga disebut oleh para peneliti menjadi julukan Islam Jawa. Dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol kalah perang dengan penjajah Belanda hingga santri-santrinya bertebaran  keseluruh Tanah Jawa khusunya di Jawa Timur  kawasan selatan, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Blitar dan Malang.       
      Mereka inilah santri dan juga lasykar Pangeran Diponegono menyebarkan Islam  di kampung-kampung sambil berdagang. Kemudian lama-lama mereka adaptasi dengan warga setempat dan bertempat tinggal di daerah itu secara berkelompok, hingga disebutlah tempat tinggal mereka itu Kampung Mataraman. Dan ini hampir ada di setiap kabupaten mesti ada orang dari mataram. Biasanya penyebar agama Islam versi laskar Pangeran Diponegoro, halaman rumah tinggalnya di tandai dengan tanaman buah Sawo. Konon katanya untuk memudahkan teman-teman seperjuangannya untuk mencarinya. Termasuk yang ada di lingkungan Mastrip Kepanjenkidul Kota Blitar. Mereka - mereka inilah penyebar Islam yang kiranya  perlu disyukuri dan diteruskan perjuangannya, tentu saja melalui keturunannya, anak, cucu, buyut, canggah dan seterusnya mempunyai kuwajiban untuk memelihara dan melestarikannya hingga akhir zaman.
     Menurut pengamatan penulis di kawasan kelurahan Kepanjenkidul ini, tampaknya sudah sejak dulu banyak orang-orang penyebar Islam dari Mataram - Jogajakarta. Salah satu bukti otentiknya adalah di utara rel Kereta Api  sekarang bersebelahan dengan kampung Srigading yang dikenal dengan Gang Pesarehan ada makam yang kata masyarakat setempat adalah makam mBah Haji Abdul Hadi dari Mataram.  
     Oleh karena itu sudah selayaknyalah jikalau generasi penerus yang khususnya berdomisili di kampung Mataraman ini tetap melestarikan perjuangan Islam sesuai dengan yang dilakukan oleh para nenek moyangnya.

2.  Menjaga kemandirian Islam di tingkat keluarga 
     Sebenarnya manusia itu terdiri dari dua(2) unsur, yaitu Badan Wadag ( Jasmani ) dan Ruhani. Pada saatnya kedua-duanya akan kembali kepada asalnya. Badan Jasmani jikalau manusia sudah meninggal dunia akan kembali ke tanah, sebab memang menurut asal usulnya badan jasmani Anak  Adam diciptakan oleh Allah SWT dari tanah. Sedangkan Ruh akan kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT dengan membawa sejumlah pertanggungjawaban.
     Uraian diatas yang perlu digaris bawahi adalah kata-kata "pertangungjawaban". Tanggung jawab sebagai manusia  yang mengabdi kepada Allah SWT selaku penciptanya, ini hanya bisa dilalui dengan sebuah keluarga. Dari dalam keluarga inilah manusia akan berusaha untuk menjadikan keturunannya berahlak baik, yang biasanya dijadikan keturunannya menjadi anak sholih - sholihah.   Ini melalui proses yang panjang dan tidak mudah.  Cobalah kita perhatikan mengenai sejarahnya, dimulai dari dua insan manusia yang berlainan jenis kelamin. Untuk memulainya biasanya diawali dengan pacaran yang semestinya tidak perlu terjadi. Sebab pacaran artinya kan untuk mengenal lebih dekat antara laki-laki dan perempuan secara individual. Dan ini pasti bukan muhrimya. Dalam keyakinan Islam, berpandangan saja dengan lain jenis lebih dari satu kali antara laki-laki dan perempuan bukan muhrimnya hukumnya haram, apalagi bersama-sama, berboncengan kesana kemari itu perbuatan yang sangat dilarang dan bentuk pelanggaran.
     Selanjutnya untuk menjadikan dia istrinya atau suaminya harusnya melalui proses ada Ijab-qobul dari calon mempelai laki-laki dengan pihak wali perempuan  dan diperkuat dengan Mas Kawin atau Mahar dan pula disaksikan paling sedikit dua orang. Jadi tidak asal kamu jadi istriku atau kamu jadi suamiku.
     Kemudian untuk membuat anak pada saat akan berhubungan badan antara suami - istri harusnya keduanya bersuci dan berdoa kepada Allah SWT agar dijauhkan dari godaan syaithon dan mohon kepada Allah SWT diberkahi anak Sholih-sholihah. Jikalaulah sang istri lagi hamil maka keduanya harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya suami-istri ibadahnya ditingkatkan, prilakunya ahlakul karimah, dan selal;u menjaga kesehatan calon bayi dan ibunya.
     Kalau saat  lahir, anak diperdegarkan adzan dan iqomah di telinga kanan  oleh Bapaknya, ari-arinya di timbun ditanah sebab asal manusia memang darti tanah.Proses selanjutnya membesarkan dan mendidik, artinya memberikan adabiyah/kebiasaan anak untuk berahlakul karimah, mendidik dan menjadikan anak untuk mengerti.
     Itulah maka sebagai orang tua seharusnya memiliki tanggungjawab yang besar terhadap anak-anaknya untuk memasukkah nilai-nilai Islam kepadanya dengan cara membiasakan anak mengerti dan mengerjakan sholat, mengerti dan bisa membaca Kitab Sucinya yaitu Al Qur'an. Mimbiasakan keluarga sholat berjamaah di rumah, di musholla atau di masjid agar anak nantinya tidak malu ke masjid dan mengerti tata cara masuk masjid, sebab sholat berjamaah dimasjid antara lain bermanfaat  bisa bergaul (silaturohim) dengan ummat Islam lainnya dan lain sebagainya. Insyaallah jikalau itu semua di penuhi maka Islam di tingkat keluarga akan dapat dijadikan tolok ukur pengembangannya dimasyarakat. Disitulah maka akan tampak keseimbangan. klop. (jawa = sumbut), sesuai antara cita-cita dan jerih payah.


3. Kemana meningkatkan pengetahuan diniyah
     Untuk meningkatkan pengetahuan diniyah keluarga tidak perlu jauh-jauh, jikalau dirumah sendiri tidak ada yang berpengetahuan cukup, silahkanlah cari TPQ terdekat, disitulah kita akan mendapatkan bimbingan, informasi mengenai agama Islam. Atau lebih praktis lagi keluarga memanggil guru ngaji secara privat dirumah, maka akan lebih terfokus untuk segenap keluarga, yaitu bapak, ibu dan anak-anak. Pengetahuan Islam bisa lebih jauh lagi ditempuh di Pondok-pondok Pesantren, Madrosah - madrosah dan perguruan tinggi Islam yang sudah tersebar diseantero dunia. Tinggal kita ada minat apa tidak.
     Oleh karena itu marilah kita sama-sama berusaha untuk meningkatkan Pengetahuan Islam ini agar tidak ketinggalan. Semoga Allah SWT selalu memberikan ma'unah dan hidayah kepada kita semua. Amin yaa robbal 'alamiin.

                                 ( Notulis dan Kolektor  : mBah Sakrip )
     

     










     

Kamis, 24 Mei 2012

Kelompok Belajar Membaca Al - Qur'an

DI KELURAHAN KEPANJENKIDUL Kota Blitar cukup  banyak kelompok-kelompok kaum muslimin untuk belajar membaca Kitab Sucinya yaitu Al Qur'an. Kelompk itu ada yang menamakan dirinya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an, Kelompok Pengajian, dan bahkan ada yang berbentuk Kelompok Belajar atau Ngaji.
Di Masjid Al Idris jalan Mastrip No. 1 - 3 yang dirintis oleh mBah Sakrip, ini adalah semacan Kelompok Belajar Membaca Kitab suci Al Qur'an yang dibina oleh seorang pembimbing.

Minggu, 04 Maret 2012

BAROKAH WIJAYA, waroeng lesehan, di Desa Pojok Garum, Blitar, Jawa Timur

Reuni Keluarga KH Basuni, Blitar, ternyata berlangsung tidak hanya di rumah-rumah keluarga masing-masing dzurriah, tetapi juga bisa dan boleh dilaksanakan di rumah - rumah makan atau diwaroeng-waroeng. Seperti hari ini Minggu tanggal 4 Maret 2012, reuni kali ini dilaksanakan di WAROENG LESEHAN BAROKAH WIJAYA milik keluarga Bapak Drs  Muhammad Dirgantoro, rumah Jalan Seruni Kota Blitar. Malah sebelum itu,yaitu 10 tahun yang lalu reuni keluarga KH Basuni bertempat di taman wisata CANDI PENATARAN  dan di lokasi  Makam Syeh Subakir yang bersebelahan dengan Candi Penataran , Blitar, Jawa Timur.
    Susunan Acara Reuni Kuluarga masih tetap tidak berubah, yaitu baca Kalimah Thoyibah Tahlil kepada para leluhur dzurriyah, kemudian dilajutkan dengan nasehat para pinisepuh.
MC dibawakan oleh Bapak Haji Zaenal Fanani - Desa Karangsono-Kanigoro-Blitar, Tahlil di pimpin oleh mBah Sakrip, Jalan Seruni-Kota Blitar dan Nasehat oleh Bapak Haji Muhajir Jl. sruni kota Blitar. Isi mengenai nasehat ditekankan mengenahi "cara berwudlu dan tata cara sholat yang benar". engenai berwudlu dan tata cara sholat juga diberikan contoh-contoh agar selanjutnya bisa ditiru dan dilaksanakan.
     Jika dalam reuni tersebut kali ini diawali dengan makan siang, maka akhirnya ditutup dengan bacaan sholawat dan salam-salaman.
     Salam hangat dan sampai jumpa dalam reuni mendatang di rumah Pak Sueb Yuyun, Pakunden.

Penulis naskah dan kolektor : mBah Sakrip

Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban BERDUKA

       Tepatnya Hari Rabu 29 Pebruari 2012 pukul 18.30, telang dipanggil Allah SWT / pulang ke rohmatulloh, dirumah duka, beliau Almaghfurlloh  Romo Kyai Haji Abdulloh Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur, dalam usia 82 tahun. Seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan dengan meninggalnya beliau. Beliau dinilai telah banyak berjasa untuk agama dan negrinya "Indonesia".
       Di saat wafatnya, hujan lebat dan lautan manusia mengirinya kepergian KH Abdullah Faqih menghadap sang khaliq. Para habaib, kiai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat, santri, alumni, dan warga dari berbagai tempat tumpleg bleg di Pondok Pesantren, Widang, Langitan untuk memberikan peghormatan terakhir.
Sejak Romo Kyai Faqih menghembuskan nafas yang terkhir, para penta'jiyah terus berdatangan dari berbagai tempat. Puluhan kali sholat zenazah dilaksanakan, digelar di masjid depan rumah duka, yaitu dilokasi ponpes Langitan yang memiliki 5500 santri.
       Gema tahlil tiada henti berkumandang mengiringi ulama kharismatik yang namanya melambung seiring dengan istilah Poros Langtan menjelang sidang umu MPR 1998, terutama berkaitan dengan pencalonan Gus Dur sebagi presiden.
       Berkaitan dengan wafatnya mBah Yai Faqih, pihak keluarga memutuskan memakamkan almarhum Kamis Siang tanggal 1 Maret 2012 di pemakaman umum Widang. sekitar jam 11.30 WIB. Tepat pukul itu juga Sholat zenazah yang terus digelar bergantian itu dihentikan untuk disambung dengan upacara pemberangkatan zenazah.
        Namun diluar dugaan,langit cerah itu mendadak gelap. Di tengah hiruk pikukpuluhan ribu pentakjiyah itulah hujan tumpah dari langit. Tak pelak banyak diantara mereka yang basah kuyup krena tak kebagian tempat berteduh lantaran banyaknya orang yang berjubel disana.
Kendati deikian upacara tetap berlangsung hidmat, seiring sholat dhuhur dan dilanjutkan dengan shlat jenazah terakhir dan tahlil bersama.
       Yang juga luar biasa, ketikazenazh dalam keranda bertutup kain hijau bertuliskan kalimat Syahadat itu diberangkatkan dengancara dipikul, tiba-tiba hujan eda dan langitpun kembali cerah. Jalan yang panjangnya sekitar 600 meter yang dilalui zenazah daripondok Pesanten ke pemakaman penuh sesak.  Isak tagis keluarga, kerabat, para santri dan para pentakziyah lainnya menyatu dengan suara tahil, hingga sang kiai tiba di peristirahatan terakhir di lokasi pemakaman umum Desa Wdang Tuban Jawa Timur.
       Sang teladan dan juru damai yang berhasil menyatukan hati Gus Dur dengan sang paman KH Yusuf Hasim dan juga KH Hasim Muzadi itu benar-benar telh berpulang. "Masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur kehilangan sosok dn figur panutan. Selain menjadi panutan ulama lain, Kiai Faqih adalah tokoh nasional yang banyak berjasa pda bangsa Indonesia", ugkap gubernur Soekarwo dlam sambutannya.
Masih menurut Pak De Karwo, Kiai yang fatwanya kerap dijadikan Gus Dur sebagai referensi gerakan reformasi nasional itu selalu menjadi panutan dalam menjaga Ahluss Sunnah Wal Jamaah di Indonesia dan bahkan menjadi rujukan internasional. "Dan beliau banyak membawa Jawa Timur berperan menjadi wilayah yang aman dan tentram".
       Selain Gubernur Jatim, Kapolda Irjen Pl Hadiatmoko, Bupati Tuban H. Fathul Huda, Bupati Lamongan Fadeli, mantan Bupati Bojonegoro Santoso dan sejumlah pejabat jatim lainya juga hadir dirumah duka. Presidan Indonesia Susilo Bambang Yudoyono terlihat mengirimkan karangan bunga sebagai ucapan bela sungkawa. Demikian pula juga banyak dari kalangan Partai politik, Golkar, DPP PKB dan DPP PKNU.
Selain itu sistuai jalan didepan pondok Langitan terlihat macet, sebabsejak Rabu kendaraan terus berdatatangan.

mBah Kiai Faqih menjadi besar karena zuhud dan wira'i.
       Dimata sejumlah Kiai maupun para santri  mBah Kiai Faqih adalah figur yang hidup bersahaja dan ikhlas.
Ulama besar ini sangat besar dan zuhud, wira'i, sabar dan suka memotivasi orang lain ntuk maju. Beliau adalah teladan bangsa dalam kesalehan.
       Rumah kayu bercat kuning janur di dalam kompleks Pondok Pesantren Langitan adalah saksi, betapa brsahaja Kiai Faqih. Bangunan tua ukuran 7 x 8 meter itu haya berisi meja kursi kuno dan dua almari buku.
Terlalu sederha jika dibanding dengan bangunan berlantai dua yag dihuni anak-anaknya.    Kesederhanaan Kiai kelahiran dusun Mandungan Widang Tuban 2 Mei 1932 mungkin taklepas dari teladan sng yah KH Rofii Zahid. Selain itu juga dari gurunya semasa muda yaitu mBah Abdurrohim, Rembang, Lasem, Jawa Tengah. Kesederhanan masih lekat meski beliau telah berguru kepada   Sayid Alwi bin Abbas al Maliki yah dari Sayid Muhammad in Alwi Al Maliki dari Arab. Bahkan semakin kenthal setelah beliau dipercaya memimpin Pondok Pesantren Langitan menggantikan KH Abdul Hadi Zahid sejak 1971.
       Ditangan Kiai Faqih, Ponpes Langitan yang didirikan oleh KH Muhammad Nur (asal Tayuban Rembang Jateng) pada tahun 1852, berkembang pesat.Di dampingi sang paman KH Ahmad Marzuki Zahid, Kiai Faqih membuat Ponpesnya mejadi lebih terbuka terhadap kemajuan, meski tetap teguh pada prinsip salafiyah.

Ternyata mBah Kyai Abdullah Faqih mondok hanya 4 tahun
       Masa kecil Syaikhina KH abdullah Faqih lahir dari pasangan Kyai Rofi'i dan Nyai Khodijah bersaudarakan tiga yaitu Abdullah Faqih, Khizin dan Hamim. Namun semenjak kecil kepengasuhan berada dibawah pamannya KH Abdulhadi Zahid Pengasuh Ponpes Langitan Generasi ke empat. Ini terjadi lantaran ayahanda beliau kyai Rofii wafat saat Syaikhina berusia tujuh tahun. Syaikhina Abdullah Faqih lahir di Desa Widang Tuban pada tanggal 2 Mei 1932.
       Abdullah Faqih muda sangat senang bergelut dengan kitab-kitab keagamaan. Setelah belajar kepada ayahandanya beliau mulai keluar rumah untuk menuntut ilmu. Pindah dari pesantren satu ke pesantren lainnya guna mencari ilmu dan kalam hikmah. Beliau sangat luar biasa meski hanya 4 tahun dalam pengembarannya mencari ilmu, beliau sangat konsentrasi dan istiqomah. Selama mondok syaikhina selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
       Selama empat tahun itu, Abdullah Faqih muda telah mengambil ilmu dari para guru yang utama, antara lain : di Lasem Jawa Tengah belajar pada KH Baidhowi, KH Ma'shum, KH Fathurrohman, KH Maftuhi, KH Manshur dan KH Masduki. Di Bangilan beliau belajar pada para kyai dan yang utama belajar pa KH Fadhal. Kemudian pindah-pindah bertabarukan ke pesantren-pesantren lainnya diantaranya Pesantren Watu Congol asuhan KH Nahrowi Dalhar (mBah Kyai Dalhar).
       Sehabis masa pengembaraannya beliau kemudian berumah tangga dengan putri dari KH Ma'shum yaitu Nyai Hunainah, dan selanjutnya berdomisili di Ponpes Langitan melanjutkan perjuangan pendahulunya KH abdul Hadi.

Terbuka bagi siapa saja
       Setiap hari kediaman Syaikhina Kh Abdullah Faqih Langitan tidak sepi dari kunjungan tamu.  Beliau sangat ramah dan berbdi halus.  Telah diakui banyak orang, bahwa syaikhina dapat memberikan jalan keluar terhadap masalah-masalah yang ditimpa para tamunya. Pada hal tamu yang berkunjung ke kediaman beliau dari berbagai la[isan masyarakat, ada pejabat tinggi, pejabat rendahan, rakyat biasa, para santri dan lain-lain. Kayaknya beliau memiliki mata hati (basyiroh) yang jarang dimiliki banyak orang. Beliau menyampaikannya dengan menggunakan tutur bahasa yang santun dan mengedepankan bahasa budi.
       Semoga amal baik beliau ditrima Allah SWT dan segala dosanya dileburNYA.
(sebagian unduhan dari harian surya)

                            ====:kolektor dan penulis naskah mBah Sakrip:=====

Sabtu, 31 Desember 2011

berkunjung ke DESA BALOKANG - Banjar - Jawa Barat

          Hari itu sebenarnya hari yang sangat bahagia 13 Desember 2011. Salah satu keluarga ada yang lagi menikah. Jadi ikutan aku sebagai orang tua ke Kota Banjar - Jawa Barat, yang baru dua kali itu aku dan keluargaku mengunjunginya.
Sepur Kahuripan yang mengantarku yang kedua kali ternyata memiliki keramahan yang cukup memikat hati para penumpangnya termasuk aku dan keluargaku. Dulu sewaktu aku masih pertamakali menaikinya, wuiiih.... penumpangnya puuuoool banget sampai-sampai sulit duduk dilatai, disandung dan ditendang para bakul. Sedangkan yang kedua kali ini....., hemmmm..... sangat ramah, dan penumpangnya semua kebagian tempat duduk. Hingga akupun bisa tiduran habis tempatku mulai dari kediri hingga Sta Lempuyangan Jogja " kosong " .
         Salah satu wajah desa Balokang yang sangat indah mempesona, aku menyusurinya dengan sepeda motor jemputan dari pihak keluarga Bapak Dimyati Almarhum.







           Jalan di Pasar Banjar terobosan menuju Terminal Bis sudah ada yang rusak, sepertinya biaya pemeliharaannya masih dianggarkan. Belum turun.